Surat Al-Ma'idah, yang merupakan surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ketentuan hukum dan kisah-kisah penting dalam Islam. Nama "Al-Ma'idah" sendiri berarti "Hidangan", yang merujuk pada kisah mukjizat hidangan yang diturunkan dari langit kepada Nabi Isa AS dan kaumnya, sebagaimana diceritakan dalam ayat-ayat di surat ini.
Surat ini dikenal karena mengandung banyak penetapan syariat (hukum Islam) yang fundamental, seperti aturan tentang makanan halal dan haram, hukum pidana (seperti qisas), ketentuan wudhu dan tayammum, hingga penjelasan mengenai perjanjian dan kesetiaan. Kedalaman tema yang dibahas menjadikan Al-Ma'idah sebagai rujukan penting dalam fikih Islam.
Simbolisasi cahaya petunjuk dari Al-Qur'an.
Salah satu aspek paling menonjol dari Surat Al-Ma'idah adalah penetapan berbagai hukum syariat. Ayat-ayat awal secara tegas membahas tentang pemenuhan janji dan akad, serta aturan ketat mengenai makanan yang diperbolehkan (halal) dan yang dilarang (haram). Larangan memakan bangkai, darah, daging babi, serta hewan yang disembelih atas nama selain Allah, ditekankan sebagai batasan yang jelas bagi umat Islam.
Lebih lanjut, surat ini juga mengatur tata cara bersuci melalui ayat tentang wudhu dan tayammum. Ketentuan ini menunjukkan kemudahan dan fleksibilitas syariat Islam dalam menghadapi kondisi yang berbeda, di mana air mungkin tidak tersedia atau sulit digunakan. Ketentuan tayammum menjadi rahmat bagi orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan.
Aspek hukum pidana juga disinggung, khususnya mengenai keadilan dalam penerapan sanksi (qisas), sebagai upaya menjaga ketertiban dan keselamatan jiwa dalam masyarakat. Prinsip bahwa hukuman harus dilaksanakan dengan adil, tanpa memandang status sosial, menjadi pesan universal dalam ayat-ayat tersebut.
Selain aspek legalistik, Al-Ma'idah juga menyimpan narasi spiritual yang mendalam. Kisah permintaan kaum Hawari kepada Nabi Isa AS untuk diturunkan hidangan dari langit (Ma'idah) bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga ujian keimanan dan manifestasi kasih sayang Allah SWT. Kisah ini menegaskan bahwa mukjizat adalah hak prerogatif Allah yang diberikan kepada para Nabi-Nya.
Surat ini juga secara eksplisit membahas tentang interaksi umat Islam dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Ayat-ayat dalam Al-Ma'idah menyerukan prinsip toleransi yang didasarkan pada kebenaran tauhid, sambil juga memberikan kritik terhadap penyimpangan akidah yang terjadi pada sebagian kelompok tersebut. Terdapat penekanan bahwa jalan terbaik adalah kembali kepada ajaran Allah yang murni dan universal.
Perintah untuk berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat) menjadi kesimpulan penting dari Surat Al-Ma'idah. Islam mengajak umatnya untuk tidak terjebak dalam pertikaian yang tidak perlu, melainkan memfokuskan energi pada amal shaleh dan mendekatkan diri kepada keridhaan Ilahi. Dengan memahami konteks dan substansi Al-Ma'idah, seorang Muslim dapat menerapkan hukum dan etika Islam secara komprehensif dalam kehidupan sehari-hari. Surat ini, dengan total 120 ayat, menutup dengan penegasan bahwa kunci kesuksesan dunia dan akhirat adalah ketundukan total kepada Allah SWT.