Kajian Mendalam Surat Al-Maidah Ayat 101 hingga 110

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pelajaran penting mengenai hukum, etika sosial, dan kisah-kisah kenabian. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 101 hingga 110, memuat dialog penting antara orang-orang beriman dengan para penanya yang cenderung menguji syariat, serta penegasan atas tanggung jawab nabi dan mukjizat kenabian. Memahami ayat-ayat ini sangat krusial untuk memperkuat landasan keyakinan dan kepatuhan seorang Muslim.

Kebenaran yang Jelas

Ilustrasi: Peringatan terhadap pertanyaan berlebihan dan penegasan wahyu.

Memahami Ayat Krusial (Ayat 101-103)

Ayat 101 dimulai dengan peringatan keras: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkan kamu..." (Al-Maidah: 101). Ayat ini muncul sebagai respons terhadap kecenderungan sebagian sahabat atau orang-orang terdahulu yang terlalu ingin tahu detail hukum yang belum diwajibkan, yang ketika diwajibkan, justru menjadi beban berat. Ini mengajarkan prinsip penting dalam Islam: taat pada batasan syariat tanpa menambah beban yang tidak diperintahkan.

Selanjutnya, ayat 102-103 membahas respons umat terdahulu terhadap nabi mereka ketika diberi kemudahan, namun mereka malah mencari kesulitan. Allah menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan syariat untuk menyusahkan, melainkan untuk mempermudah (sebagaimana prinsip umum dalam Islam). Ayat ini juga mengingatkan tentang konsep 'bahr' (lautan) dalam konteks sumpah dan janji, namun konteks utama di sini adalah penolakan terhadap sikap berlebihan dalam bertanya dan beragama.

Kisah Mukjizat dan Pertanggungjawaban Nabi Isa (Ayat 104-110)

Memasuki ayat 104 hingga 110, fokus beralih kepada dialog penting mengenai kedudukan Nabi Isa 'alaihissalam (Yesus) dan para rasul lainnya. Ayat 104 menegaskan bahwa ketika dikatakan kepada mereka untuk mengikuti wahyu Allah dan Rasul, mereka menjawab, "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya." Ini adalah kritik terhadap tradisi buta (taklid buta) yang mengabaikan petunjuk wahyu yang jelas.

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا اهْتَدَوْا ١٠٤
(Al-Maidah: 104): Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul", mereka berkata: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami melakukannya." Apakah akan (mereka mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?

Ayat-ayat selanjutnya (105-108) kembali menegaskan pentingnya menjaga integritas diri sendiri, yang mana itu tidak akan merugikan orang lain. Kemudian, ayat 109-110 berpusat pada hari kiamat dan pertanyaan Allah kepada Nabi Isa mengenai mukjizat yang telah Dia berikan.

Pertanyaan Allah kepada Nabi Isa (Ayat 110)

Ayat penutup dalam rentang ini, ayat 110, adalah inti dari dialog kenabian. Allah bertanya kepada Nabi Isa tentang mukjizat menghidupkan orang mati, menyembuhkan kebutaan dan penyakit kusta, serta mengeluarkan orang mati dari kubur dengan izin Allah. Jawaban Nabi Isa sangat jelas: "Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu'."

Jawaban ini berfungsi sebagai klarifikasi mendasar bahwa seluruh mukjizat yang terjadi adalah atas izin dan perintah Allah semata, bukan berasal dari kekuatan pribadi Nabi Isa. Ini merupakan bantahan tegas terhadap anggapan yang berlebihan terhadap kedudukan para nabi. Semua kekuasaan hakiki kembali kepada Allah SWT. Hikmah dari rangkaian ayat ini mengajarkan kita untuk fokus pada perintah dasar (Tauhid), menjauhi pertanyaan yang memberatkan, dan memahami bahwa segala kebaikan datang dari Allah melalui perantara para utusan-Nya.

Implikasi Modern

Di era modern, pelajaran dari Al-Maidah 101 sangat relevan. Kita diingatkan untuk tidak menciptakan kerumitan dalam ibadah (bid'ah yang tidak perlu) atau menuntut hukum yang belum diwajibkan hanya karena rasa ingin tahu yang tidak bermanfaat. Fokus harus selalu pada kepatuhan yang mudah dan jelas, sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Kejelasan akidah, seperti yang ditunjukkan oleh pengakuan Nabi Isa, harus selalu diutamakan di atas segala bentuk kesalahpahaman atau pemujaan berlebihan terhadap figur tertentu. Rangkaian ayat ini adalah fondasi untuk beragama yang benar, lurus, dan tidak memberatkan diri.

🏠 Homepage