Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan sejarah. Ayat 101 hingga 120 mencakup serangkaian peringatan penting bagi orang-orang beriman mengenai konsekuensi dari bertanya yang berlebihan, pentingnya menjaga amanah, serta gambaran kedudukan Nabi Isa AS pada hari kiamat.
Peringatan dari Pertanyaan Berlebihan (Ayat 101-102)
Ayat-ayat pembuka dalam rentang ini memberikan teguran keras kepada kaum yang cenderung bertanya kepada Nabi Muhammad SAW dengan tujuan menyulitkan atau mencari celah hukum yang tidak perlu. Allah SWT menegaskan bahwa pertanyaan yang tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan hanya untuk menguji atau memperberat beban, akan membuka pintu bagi hal-hal yang tadinya diizinkan menjadi terlarang.
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkan kamu; dan jika kamu menanyakan-nnya ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal yang telah lampau. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Inti dari peringatan ini adalah dorongan untuk menerima syariat dengan lapang dada tanpa mencari-cari pengecualian atau detail yang dapat mempersulit umat. Sejarah menunjukkan bahwa umat terdahulu sering kali dihukum karena pertanyaan semacam itu. Fokus seharusnya adalah beramal dengan apa yang telah diperintahkan, bukan memperdebatkan apa yang belum dijelaskan.
Perjanjian dengan Allah dan Ujian Kesetiaan (Ayat 103-108)
Setelah membahas larangan bertanya yang tidak perlu, Al-Maidah melanjutkan dengan menekankan pentingnya menepati janji dan menjaga perjanjian, baik dengan Allah maupun sesama manusia. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa hewan ternak (seperti bahirah, saibah, dll.) yang dulunya diagungkan oleh kaum jahiliyah, kini dihalalkan bagi umat Islam, selama tidak ada larangan syar'i yang jelas. Namun, penekanan utama tetap pada integritas dan kejujuran.
Ayat 106-108 membahas prosedur persaksian dalam wasiat ketika seseorang akan meninggal. Ini menunjukkan betapa pentingnya keadilan dan objektivitas, bahkan dalam momen perpisahan. Jika terjadi perselisihan mengenai isi wasiat, harus dipanggil dua orang saksi yang adil dari kalangan muslimin, atau dua orang dari selain muslimin jika ada kekhawatiran akan tipu muslihat dari kaum lain. Ayat ini menekankan bahwa kesaksian harus murni demi mencari kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu atau golongan.
Kisah Mukjizat Nabi Isa AS (Ayat 109-118)
Bagian signifikan dari ayat-ayat ini (khususnya 110-118) berfokus pada dialog Allah dengan Nabi Isa Al-Masih pada Hari Kiamat. Dialog ini berfungsi sebagai penegasan kembali fakta sejarah dan koreksi terhadap keyakinan sesat mengenai kedudukan Isa AS.
Ingatlah ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku atasmu dan atas ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus [Jibril], kamu berbicara kepada manusia di waktu masih dalam buaian dan waktu dewasa; dan ingatlah ketika Aku ajarkan kepadamu tulis-menulis, Hikmah, Taurat dan Injil;
Dialog tersebut menunjukkan tiga poin utama:
- Pengingat atas mukjizat dan pertolongan Allah (berbicara saat bayi, pengajaran kitab).
- Penegasan bahwa Isa tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menyembah dirinya atau ibunya.
- Kesaksian final Isa bahwa ia hanya menyampaikan risalah Allah dan tidak mengetahui apa yang dilakukan pengikutnya setelah ia diangkat.
Kesaksian ini adalah penutup tegas dari klaim ketuhanan atau pengkultusan terhadap beliau, menegaskan kembali prinsip tauhid murni yang dibawa oleh seluruh Nabi.
Doa Nabi Isa dan Kekuasaan Allah Mutlak (Ayat 119-120)
Ayat terakhir dalam rentang ini menutup perbincangan tentang kedudukan Isa AS dengan doa yang indah dan penuh penyerahan diri dari Nabi Isa sendiri kepada Allah.
Allah berfirman: "Inilah hari di mana orang-orang yang jujur diberi manfaat karena kejujurannya; mereka beroleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar."
Ayat 119 menegaskan bahwa hari itu adalah hari manifestasi kebenaran. Bagi orang yang jujur dalam imannya (seperti Nabi Isa dan pengikutnya yang setia), kejujuran mereka akan membuahkan hasil tertinggi: surga abadi. Penutup ini menggarisbawahi bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kepatuhan total kepada Allah dan kejujuran mutlak dalam beragama, menjauhkan diri dari keraguan dan pertanyaan yang tidak produktif yang dibahas di awal ayat.