Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan muatan hukum, etika sosial, dan peringatan Ilahi. Khususnya pada rentang ayat 109 hingga 120, Allah SWT membahas peristiwa penting terkait dengan para Nabi dan hari perhitungan (kiamat), mengingatkan umat Nabi Muhammad SAW tentang konsekuensi setiap ucapan dan perjanjian.
وَيَوْمَ يُجْمَعُ ٱللَّهُ ٱلرُّسُلَ فَيَقُولُ مَاذَآ أَجَبْتُمْ ۖ قَالُوا۟ لَا عِلْمَ لَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلْغُيُوبِ
(Ingatlah) pada hari (Kiamat) Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya, "Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)-Ku?" Mereka menjawab, "Tidak ada ilmu (yang kami miliki) bagi-Mu, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib." (QS. Al-Ma'idah: 109)
Ayat 109 membuka gambaran dahsyatnya Hari Kiamat. Fokus utama di sini adalah pertanggungjawaban para utusan Allah. Allah akan meminta keterangan dari setiap rasul mengenai respons umat mereka terhadap risalah yang disampaikan. Jawaban para rasul yang menyatakan "Tidak ada ilmu bagi Kami" bukanlah bentuk ketidaktahuan absolut, melainkan pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Tahu niat tersembunyi manusia. Ini menegaskan bahwa pertanggungjawaban hakiki adalah di hadapan Allah.
Ayat berikutnya (110-112) melanjutkan dengan kisah Nabi Isa AS. Allah mengingatkan kembali karunia besar yang diberikan kepada Nabi Isa—yaitu mukjizat berbicara saat masih bayi, pengajaran Taurat dan Injil, penyembuhan, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Puncak dari ingatan ini adalah pertanyaan kepada Nabi Isa tentang bagaimana umatnya menyikapi risalah tersebut, yang mengarah pada penegasan status keesaan Allah dan penolakan terhadap klaim ketuhanan atas diri beliau.
Nabi Isa kemudian menyebutkan bagaimana para pengikut setianya, Hawariyyin, bersaksi dan beriman teguh. Mereka berkata, "Kami beriman dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim)." (QS. Al-Ma'idah: 114).
قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوْمَ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُم جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Allah berfirman, "Inilah hari di mana orang-orang yang benar (jujur) memperoleh manfaat dari kebenaran mereka. Bagi mereka disediakan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. Al-Ma'idah: 119)
Ayat 115 menjadi penutup pembahasan Nabi Isa, memberikan janji kemenangan bagi orang-orang yang berkata benar (Ash-Shadiqien). Mereka yang imannya tulus dan lisannya jujur akan menuai hasil terbaik di akhirat. Keuntungan terbesar bukanlah kekayaan duniawi, melainkan surga yang kekal.
Menyadari kesalahpahaman umatnya yang menyembah selain Allah, Nabi Isa berdoa memohon perlindungan dan penegasan tauhid kepada Allah (Ayat 116-118). Doa beliau adalah manifestasi tawassul yang benar, yaitu memohon langsung kepada Allah SWT.
Ayat krusial penutup bagian ini adalah ayat 120, yang merupakan puncak penegasan keesaan Allah:
لِّلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Bagi Allah kepunyaan kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Ma'idah: 120)
Ayat 120 berfungsi sebagai kesimpulan menyeluruh atas seluruh narasi sebelumnya. Jika terjadi perselisihan mengenai status makhluk atau klaim ilahiyyah, kembalikanlah segalanya kepada pemilik mutlak alam semesta. Allah adalah Pemilik tunggal langit, bumi, dan segala isinya. Kekuasaan-Nya tidak terbatas, menegaskan bahwa menyembah selain-Nya adalah perbuatan yang tidak masuk akal dan sia-sia.
Secara keseluruhan, rangkaian ayat 109 hingga 120 dari Surat Al-Ma'idah ini menekankan pentingnya kejujuran iman, pertanggungjawaban amal di hadapan Allah, dan penegasan mutlak bahwa hanya Allah yang berhak disembah karena Dialah pemilik tunggal seluruh alam semesta.