Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pembahasan mengenai syariat, perjanjian, dan kisah-kisah penting. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 110 hingga 120, mengandung dialog krusial antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'alaihissalam, serta penekanan mendalam mengenai tanggung jawab manusia atas amal perbuatannya.
Ayat-ayat ini menjadi pengingat abadi tentang kekuasaan Allah dan pentingnya menjaga iman serta amal saleh, terutama setelah Allah memberikan berbagai mukjizat dan bukti nyata.
Bagian awal dari rentetan ayat ini berfokus pada dialog yang terjadi pada Hari Kiamat. Allah SWT mengingatkan Nabi Isa tentang nikmat-nikmat besar yang telah diberikan kepadanya, termasuk kemampuan berbicara sejak dalam buaian dan mukjizat luar biasa lainnya.
Mukjizat seperti menghidupkan orang mati dengan izin Allah, membentuk burung dari tanah lalu meniupnya sehingga menjadi burung hidup, adalah bukti kebesaran kuasa yang dianugerahkan. Ayat-ayat ini menekankan bahwa semua mukjizat tersebut adalah karunia dari Allah, bukan kekuatan pribadi Nabi Isa.
Puncak dari dialog ini adalah pertanyaan Allah kepada Nabi Isa apakah beliau pernah memerintahkan manusia untuk menyembahnya dan ibunya (Maryam). Nabi Isa menjawab dengan penolakan keras, menegaskan bahwa tugasnya hanyalah beribadah kepada Allah semata.
Ayat ini menjadi klarifikasi mendasar dan bantahan tegas terhadap keyakinan yang menyimpang mengenai status Nabi Isa. Ini adalah pelajaran penting bagi umat Islam mengenai batasan penghormatan kepada para nabi dan tauhid (keesaan Allah).
Setelah Nabi Isa membersihkan dirinya dari tuduhan tersebut, ayat-ayat berikutnya kembali menegaskan otoritas tunggal Allah SWT atas alam semesta, baik di dunia maupun di akhirat. Segala sesuatu tunduk pada kehendak-Nya.
Pernyataan Nabi Isa pada ayat 117 menegaskan bahwa selama ia hidup bersama mereka, ia hanya mengajarkan perintah Allah. Namun, setelah diangkat ke hadirat-Nya, hanya Allah yang mengawasi mereka. Allah adalah Saksi atas segala sesuatu.
Penutup dari rentetan ayat ini (ayat 118-120) memperkuat inti ajaran Islam: **hanya Allah yang berhak disembah**. Jika Allah mengazab mereka (karena kekufuran mereka), maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Nya. Dan jika Allah mengampuni mereka, maka Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Kisah dalam Al-Ma'idah 110-120 ini relevan hingga kini. Ia mengajarkan kita pentingnya membedakan antara penghormatan yang sewajarnya kepada tokoh-tokoh suci dengan penyimpangan akidah (syirik). Kejelasan dialog Nabi Isa menjadi pelajaran bahwa kejujuran dalam menyampaikan risalah dan membela tauhid adalah prioritas utama.
Selanjutnya, ayat-ayat ini mengingatkan bahwa perhitungan amal akan dilakukan secara personal di hadapan Allah. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, setiap Muslim harus waspada terhadap godaan untuk melebih-lebihkan kedudukan manusia atau menyekutukan Allah dalam bentuk apapun, baik melalui pujian yang melampaui batas maupun perbuatan ibadah yang salah sasaran.
Memahami ayat-ayat ini memberikan ketenangan bahwa kekuasaan mutlak ada di tangan Allah, dan kepada-Nya jualah kita akan kembali untuk menerima keputusan akhir berdasarkan rahmat dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.