Mukadimah Ayat
Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pesan penting mengenai akidah, syariat, dan sejarah kenabian. Khususnya pada ayat 111 hingga 115, Allah SWT mengisahkan dialog penting antara Nabi Isa alaihissalam dengan para pengikut setianya, yang dikenal sebagai Hawariyyin. Kisah ini merupakan penegasan kuat tentang tauhid dan keyakinan mutlak kepada wahyu Allah. Ayat-ayat ini sering dibaca untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya konsistensi dalam iman, terutama ketika menghadapi cobaan dan godaan.
Teks dan Makna Ayat 111-112: Permintaan Wahyu
وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ
(111) Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada kaum Hawariyyin, "Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku." Mereka menjawab, "Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Muhammad) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslimin)."
وَلَمَّا أَنْ جَاءَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
(112) Dan ketika 'Isa putera Maryam menerangkan tanda-tanda (kebesaran-Ku), ia berkata, "Aku telah datang kepadamu membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan tentangnya; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada-Ku."
Ayat 111 menunjukkan respons cepat dan tulus dari Hawariyyin (para sahabat setia Nabi Isa) terhadap perintah ilahi. Mereka tidak hanya menyatakan keimanan, tetapi juga meminta agar Nabi Muhammad SAW menjadi saksi atas keislaman mereka. Ini adalah pengakuan iman yang mendalam. Ayat 112 melanjutkan dengan penegasan peran Nabi Isa sebagai pembawa hikmah dan penjelas kebenaran yang diperselisihkan oleh kaumnya. Pesan utamanya adalah ketakwaan kepada Allah dan ketaatan mutlak kepada Rasul.
Teks dan Makna Ayat 113-114: Permintaan Hidangan dari Langit
قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ
(113) Kaum Hawariyyin berkata, "Kami ingin memakan hidangan itu (yang diturunkan dari langit) dan agar hati kami menjadi tenteram, dan kami yakin bahwa kamu telah mengatakan yang sebenarnya kepada kami, dan agar kami menjadi saksi atas hidangan itu."
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
(114) 'Isa putera Maryam berdoa, "Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari turunnya menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang yang bersama kami dan yang datang setelah kami, dan menjadi tanda dari-Mu; berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik."
Di sini, tantangan muncul dari keraguan yang tersisa dalam hati sebagian pengikut, meskipun mereka telah menyatakan beriman. Mereka meminta mukjizat konkret berupa hidangan (ma'idah) yang turun dari langit. Permintaan ini bukan semata-mata untuk urusan perut, tetapi untuk menenangkan hati dan memperkuat keyakinan mereka, sekaligus menjadi bukti nyata atas kebenaran Nabi Isa di hadapan orang banyak. Nabi Isa kemudian menengadahkan doa kepada Allah, memohon hidangan tersebut, menjadikannya sebagai hari raya dan ayat (tanda) bagi generasi mendatang.
Teks dan Makna Ayat 115: Janji dan Peringatan
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
(115) Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepadamu, barangsiapa di antara kamu kafir sesudah (turunnya hidangan itu), maka sungguh Aku akan mengadzabnya dengan adzab yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia (di zaman itu)."
Respon Allah sangat jelas dan tegas. Setelah mukjizat yang diminta disaksikan, status iman mereka diuji kembali dengan ujian yang lebih berat. Janji Allah untuk menurunkan hidangan disertai dengan peringatan keras. Jika setelah menyaksikan tanda yang begitu jelas itu, masih ada yang mengingkari atau kafir, maka balasan azab yang akan mereka terima adalah azab yang belum pernah dialami oleh umat manusia sebelumnya. Ini menekankan bahwa setelah melihat bukti yang gamblang, sikap ingkar akan mendapatkan konsekuensi yang sangat serius.
Pelajaran Penting dari Ayat-Ayat Ini
Kisah Al-Ma'idah ayat 111-115 memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam. Pertama, iman yang sejati harus disertai dengan penyerahan diri yang total (Islam), seperti yang ditunjukkan oleh Hawariyyin. Kedua, mukjizat berfungsi sebagai penguat keyakinan, tetapi tidak boleh dijadikan syarat mutlak untuk beriman; hati yang tenang adalah tujuan utamanya. Ketiga, ketaatan kepada Rasul dan ketakwaan kepada Allah adalah landasan utama. Terakhir, peringatan keras pada ayat 115 mengingatkan bahwa penolakan terhadap kebenaran yang sudah jelas terbukti memiliki konsekuensi akhirat yang sangat berat. Ayat-ayat ini adalah cerminan dialog antara kebutuhan manusia akan kepastian dan keagungan kekuasaan Tuhan.