Surat Al-Maidah merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pembahasan hukum, perjanjian, serta kisah-kisah penting terkait Bani Israil dan kenabian Isa AS. Salah satu ayat yang sering direnungkan dan menjadi penutup kisah permintaan kaum Nabi Isa AS adalah Ayat 114. Ayat ini memiliki makna mendalam mengenai keimanan, pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, dan kedudukan Nabi Isa sebagai seorang hamba.
Ayat 114 Al-Maidah ini merangkum puncak dari dialog antara Nabi Isa AS dengan kaumnya, Bani Israil, setelah mereka menuntut sebuah mukjizat yang luar biasa sebagai bukti kenabian Isa. Permintaan mereka sangat spesifik: makanan yang turun langsung dari langit, yang dikenal sebagai ma’idah (hidangan). Permintaan ini didasarkan pada keinginan agar peristiwa tersebut menjadi perayaan abadi ('idan) bagi generasi mereka kini dan yang akan datang, sekaligus sebagai bukti nyata (ayah) dari Allah SWT.
Meskipun konteks lengkapnya ada pada ayat sebelumnya (Ayat 112-113), Ayat 114 ini adalah puncak doa Nabi Isa AS yang memenuhi permintaan kaumnya. Doa ini menunjukkan tiga hal penting dari seorang Nabi: pertama, ketenangan dalam meminta; kedua, pengakuan bahwa semua rezeki berasal dari Allah; dan ketiga, penekanan bahwa peristiwa itu harus menjadi pelajaran bagi semua umat, bukan sekadar pemuas nafsu sesaat.
Meskipun Allah SWT mengabulkan permintaan tersebut dan menurunkan hidangan, kisah ini memberikan beberapa pelajaran esensial bagi umat Islam yang merenungkannya:
Frasa khairur-raziqin (Pemberi Rezeki yang Terbaik) mengandung kedalaman spiritual. Rezeki tidak selalu berarti kelimpahan materi. Allah adalah pemberi rezeki terbaik karena Dia tidak hanya memberikan apa yang kita minta, tetapi Dia memberikan apa yang paling kita butuhkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, termasuk rezeki berupa kesabaran, ilmu, bimbingan, dan keteguhan iman, bahkan ketika kita sedang diuji. Doa Nabi Isa AS mencerminkan kesadaran bahwa rezeki spiritual jauh lebih berharga daripada sekadar makanan fisik yang hanya mengenyangkan perut sesaat.
Oleh karena itu, perenungan mendalam terhadap Surat Al-Maidah ayat 114 ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita memohon kemudahan dan rezeki dari Allah SWT, inti dari permohonan tersebut harus selalu tertanam dalam kerangka keimanan yang teguh dan kesiapan menerima konsekuensi kebenaran yang telah disaksikan.