Memahami Surat Al-Maidah Ayat 115

Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ajaran penting mengenai hukum, etika, dan kisah kenabian. Salah satu ayat yang menyoroti keistimewaan dan kedekatan hubungan antara Allah SWT dengan para Rasul-Nya, khususnya Nabi Isa bin Maryam AS, adalah ayat ke-115.

Ayat ini adalah penutup dari rangkaian dialog panjang yang terjadi pada Hari Kiamat, di mana Allah menguji para rasul mengenai respons kaum mereka terhadap risalah yang dibawa. Fokus utama dari Al-Maidah ayat 115 adalah permintaan tulus Nabi Isa AS kepada Tuhannya untuk menurunkan hidangan makanan (Al-Ma’idah) dari langit sebagai mukjizat penutup dan peneguhan iman bagi para pengikutnya yang beriman.

Teks dan Terjemahan

Berikut adalah teks asli ayat tersebut beserta terjemahannya:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (Qāla ‘Īsā bnu Maryama: Allāhumma Rabbanā anzil ‘alainā mā’idatan minas-samā’i takūnu lanā ‘īdan li-awwālinā wa ākhirinā wa āyatan minka, wazquznā wa anta khayrur-rāziqīn)

Berkata Isa putra Maryam, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang menjadi hidangan bagi kami (sebagai tanda kebesaran-Mu), baik bagi orang yang pertama maupun yang terakhir di antara kami, dan menjadi tanda dari Engkau; dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Al-Maidah: 115)

Ilustrasi Permintaan Nabi Isa AS Rizqan Mubarakah

Konteks Turunnya Ayat

Ayat ini mengisahkan peristiwa yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka menolak untuk memasuki Baitul Maqdis karena merasa tidak mampu melawan kaum Jabbarin yang kuat. Mereka kemudian menantang Nabi Isa AS. Mereka meminta bukti konkret bahwa Allah SWT bersama beliau, yaitu dengan menurunkan makanan siap santap dari langit. Permintaan ini, meskipun didasari oleh keraguan dan ketidakpercayaan, dijawab oleh Nabi Isa AS dengan penuh kepasrahan dan doa yang indah.

Nabi Isa AS tidak hanya meminta makanan itu untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai rahmat kolektif. Beliau berdoa agar hidangan tersebut menjadi ‘īdan (hari raya atau perayaan) bagi generasi awal dan generasi akhir pengikutnya. Ini menunjukkan visi kenabian yang melampaui zamannya; mukjizat itu diharapkan menjadi pengingat abadi akan kekuasaan dan kemurahan Allah.

Makna dan Hikmah yang Dapat Dipetik

Al-Maidah ayat 115 memberikan beberapa pelajaran mendalam. Pertama, ia menegaskan status Nabi Isa AS sebagai hamba Allah yang menerima wahyu dan mukjizat. Kedua, ayat ini menonjolkan konsep rezeki. Doa Nabi Isa AS ditutup dengan ungkapan, "dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik." Ini mengajarkan umat Islam bahwa meskipun meminta mukjizat, sumber utama segala rezeki tetaplah Allah SWT, dan Dialah sebaik-baiknya pemberi anugerah, baik yang diminta secara langsung maupun tidak.

Permintaan untuk dijadikan 'hari raya' menunjukkan bahwa mukjizat tidak hanya berfungsi sebagai bukti sesaat, tetapi juga sebagai penanda historis dan spiritual. Bagi para pengikut, mengenang mukjizat tersebut menjadi bentuk syukur dan penguatan iman bahwa Allah mampu melakukan apa pun yang Dia kehendaki.

Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini mengingatkan kita bahwa ketika menghadapi keraguan atau tantangan besar, solusi terbaik adalah kembali kepada doa yang tulus, memohon pertolongan Ilahi, sambil tetap mengakui keagungan Allah sebagai sumber kehidupan dan rezeki utama. Permintaan Nabi Isa AS adalah cerminan sempurna dari tawakal sejati—mengakui keterbatasan diri dan ketergantungan penuh kepada Rabbul 'Alamin, sang Khaliq yang Maha Pemberi rezeki.

🏠 Homepage