Simbolik Janji dan Kebijaksanaan Visualisasi batu prasasti yang diukir dengan simbol tangan terikat dan matahari terbit, melambangkan perjanjian dan munculnya kebenaran. Al-Ma'idah: 14

Kajian Mendalam Surat Al-Ma'idah Ayat 14: Janji yang Ditinggalkan

Surat Al-Ma'idah (Hidangan) merupakan surat Madaniyah yang sarat dengan pembahasan hukum, etika sosial, dan kisah-kisah penting umat terdahulu. Di antara ayat-ayat penting tersebut, terdapat Firman Allah SWT dalam ayat ke-14 yang secara spesifik menyoroti konsekuensi dari pengabaian janji yang telah diperkuat.

Teks Arab, Transliterasi, dan Terjemahan

فَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Fa nasū ḥaẓẓam mimmā ḏukkirū bih, fa-aġraynā bainahumul-‘adāwata wal-baghḍā’a ilā yawmil-qiyāmah, wa sawfa yunabbi’uhumullāhu bimā kānū yaṣna‘ūn.
Artinya: Maka setelah mereka melupakan sebahagian dari peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.

Makna Janji dan Konsekuensi Kelalaian

Ayat ini menjadi sebuah peringatan keras bagi setiap individu dan komunitas yang lalai dalam memegang teguh ajaran dan peringatan yang telah diberikan. Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "nasū ḥaẓẓam mimmā ḏukkirū bih" (mereka melupakan sebahagian dari peringatan yang telah diberikan kepada mereka). Ini tidak sekadar berarti lupa ingatan sesaat, namun merujuk pada penolakan sadar atau pengabaian aktif terhadap bagian penting dari ajaran ilahi, yang seringkali berupa janji-janji atau batasan-batasan etika yang telah ditetapkan.

Umat-umat terdahulu, khususnya Bani Israil yang menjadi konteks utama turunnya bagian ayat ini, telah diperingatkan tentang konsekuensi dari melanggar perjanjian dengan Allah SWT. Ketika mereka secara kolektif memilih untuk mengesampingkan pelajaran penting tersebut—mungkin karena kepentingan duniawi, kesombongan, atau kepuasan sesaat—maka Allah memberikan hukuman yang bersifat sosial dan abadi.

Permusuhan Abadi Hingga Hari Kiamat

Hukuman yang ditimpakan sangat spesifik dan menyentuh akar kerusakan sosial: "Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat." Ini adalah konsekuensi psikologis dan sosial yang sangat berat. Hilangnya integritas spiritual berujung pada hilangnya kedamaian internal dan kohesi sosial.

Permusuhan (al-‘adāwah) dan kebencian (al-baghḍā’) yang ditimbulkan bukanlah konflik fisik semata, melainkan keretakan fundamental dalam hubungan antar sesama. Ketika landasan moral dan spiritual ditinggalkan, hati manusia menjadi tempat berkembang biaknya prasangka buruk, iri hati, dan saling memusuhi. Ironisnya, permusuhan ini bersifat "sampai hari kiamat," menunjukkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh pengabaian janji ilahi akan berlanjut lintas generasi, kecuali ada upaya taubat yang tulus untuk kembali pada peringatan tersebut.

Pelajaran bagi Umat Islam Kontemporer

Relevansi Al-Ma'idah ayat 14 sangat terasa dalam konteks modern. Peringatan Allah SWT ini mengingatkan bahwa iman bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang memegang teguh komitmen moral dan etika. Ketika umat Islam meninggalkan ajaran tentang keadilan, kejujuran, persatuan, atau keikhlasan—yang kesemuanya merupakan bagian dari "peringatan"—maka konsekuensi serupa bisa muncul.

Kita melihat fenomena perpecahan, polarisasi, dan permusuhan yang seringkali berakar pada mengabaikan prinsip-prinsip persatuan yang diajarkan Al-Qur'an. Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala perbuatan. Kalimat penutup, "Dan Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan," berfungsi sebagai penutup yang tegas, menjamin bahwa tidak ada satu pun tindakan pengabaian janji yang tersembunyi dari pengawasan-Nya.

Integritas Spiritual sebagai Benteng

Untuk menghindari nasib umat terdahulu, ayat ini menuntut umat Islam untuk senantiasa menjaga integritas spiritualnya. Ini berarti secara aktif dan sadar mengingat kembali dan mengamalkan setiap bagian dari peringatan yang telah diterima. Kegagalan untuk mengambil bagian (ḥaẓẓ) dari nasihat yang baik akan secara otomatis membuka pintu bagi kehancuran batin dan sosial.

Pada dasarnya, Al-Ma'idah ayat 14 adalah pelajaran tentang sebab-akibat kosmik. Ketaatan pada janji dan peringatan membawa ketertiban dan rahmat, sementara pengabaiannya akan menghasilkan kekacauan batin yang termanifestasi sebagai permusuhan eksternal yang berlangsung lama. Memahami ayat ini mendorong introspeksi kolektif dan individu agar selalu berpegang teguh pada syariat, bukan hanya saat mudah, tetapi terutama ketika godaan untuk melupakan terasa kuat.

🏠 Homepage