Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-80 merupakan salah satu doa penting yang diajarkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Doa ini memuat permohonan komprehensif mengenai bagaimana menjalani kehidupan, baik dalam konteks memasuki suatu keadaan maupun meninggalkannya, serta memohon dukungan ilahi dalam setiap langkah.
Ayat ini turun dalam konteks yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu menjelang atau sesudah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Meskipun sering dikaitkan dengan hijrah, cakupan maknanya jauh lebih luas, mencakup setiap aspek kehidupan seorang mukmin. Doa ini menjadi pola dasar bagi umat Islam untuk memohon keberkahan dan keridhaan dalam setiap transisi atau keputusan besar.
Doa ini terbagi menjadi tiga komponen penting yang saling berkaitan:
"Memasukkan aku secara masuk yang benar" merujuk pada izin untuk memasuki fase kehidupan baru, situasi, tempat, atau bahkan pekerjaan dengan cara yang lurus, jujur, dan sesuai dengan prinsip kebenaran (shidq). Ini bukan hanya tentang izin fisik untuk masuk, tetapi jaminan bahwa tujuan memasuki situasi tersebut adalah murni dan dibenarkan oleh Allah. Ketika seorang mukmin memulai suatu usaha, pindah rumah, atau mengambil tanggung jawab baru, ia memohon agar proses masuknya itu diberkahi dan tidak diwarnai oleh tipu muslihat atau kebatilan.
"Keluarkanlah aku secara keluar yang benar" adalah permintaan untuk keluar dari situasi sulit, berbahaya, atau yang sudah selesai masanya, dengan cara yang terhormat dan selamat. Dalam konteks hijrah Nabi Muhammad SAW, ini adalah keluarnya dari Mekkah dalam keadaan aman dan terjamin. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa berarti keluar dari kesulitan finansial tanpa melakukan hal yang haram, atau meninggalkan suatu tempat atau pekerjaan tanpa meninggalkan jejak kerusakan moral atau sosial. Keluar yang benar berarti meninggalkan sesuatu dengan keadaan yang lebih baik atau setidaknya dalam keadaan selamat dan diridhai Allah.
Bagian penutup doa ini memohon "pertolongan yang berguna dari sisi-Mu." Kata 'sultan' di sini tidak selalu berarti kekuasaan politik formal, melainkan otoritas, kekuatan pembuktian, atau dukungan yang kuat dan efektif. 'Nasiro' (yang menolong) menegaskan bahwa pertolongan yang diminta haruslah yang mampu memberikan kemenangan atau keberhasilan dalam menegakkan kebenaran. Ini adalah pengakuan bahwa manusia, betapapun cerdasnya, tidak akan mampu menghadapi tantangan hidup tanpa bantuan langsung dari Allah SWT. Pertolongan ini bisa berupa petunjuk hati, kelapangan rezeki, atau perlindungan fisik.
Ayat 80 Surat Al-Isra menjadi doa universal bagi setiap muslim yang menghadapi perubahan atau tantangan. Doa ini mengajarkan prinsip tawakkal yang aktif. Kita diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin (memohon pintu masuk dan keluar yang benar), namun hasil akhirnya diserahkan kepada kehendak dan pertolongan Allah. Doa ini menjadi pengingat bahwa kebenaran dan keberhasilan sejati selalu bersumber dari Ilahi, bukan semata-mata kemampuan dan strategi duniawi semata. Dengan senantiasa mengulang doa ini, seorang hamba menjaga jiwanya agar selalu berada di jalur yang lurus, baik saat memulai maupun saat mengakhiri suatu urusan.