Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan makna hukum, etika, dan sejarah kenabian. Bagian penting dari surat ini, khususnya ayat 21 hingga 30, menyoroti dialog antara Nabi Musa AS dengan kaumnya mengenai perintah Allah untuk memasuki Baitul Maqdis (Yerusalem) dan Tanah Suci yang dijanjikan. Ayat-ayat ini menjadi pelajaran abadi tentang kepatuhan, keberanian, dan konsekuensi dari penolakan terhadap perintah ilahi.
Surat Al-Ma'idah Ayat 21
"Hai kaumku, masuklah kamu ke negeri suci (Baitul Maqdis) yang telah dijanjikan Allah untukmu, dan janganlah kamu semua berbalik ke belakang (menjadi orang yang murtad), kerana kalau kamu berbalik, nescaya kamu akan rugi."
Konteks dan Perintah Ilahi
Ayat-ayat pembuka dalam rentang ini langsung menyajikan titah dari Allah SWT melalui lisan Nabi Musa AS kepada Bani Israil. Setelah melalui perjalanan panjang di padang gurun selama empat puluh tahun akibat pembangkangan mereka sebelumnya, tibalah saatnya mereka harus melaksanakan janji Allah: menaklukkan dan menempati tanah yang diberkahi (Suriah Raya, termasuk Palestina).
Perintahnya sangat tegas: "Masuklah kamu ke negeri suci". Ini bukan sekadar ajakan, melainkan sebuah kewajiban ilahiah yang di dalamnya terkandung keberkahan dan kemakmuran. Namun, tantangan psikologis yang dihadapi kaum Musa sangat besar. Mereka telah terbiasa hidup dalam zona nyaman perbudakan di Mesir dan kemudian dalam keterbatasan di padang gurun. Menghadapi bangsa-bangsa kuat yang mendiami tanah tersebut memerlukan keberanian yang besar.
Surat Al-Ma'idah Ayat 22-24
"Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat, dan kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya. Apabila mereka keluar daripadanya, maka sesungguhnya kami pasti akan masuk'. Berkatalah salah seorang dari dua orang yang bertakwa yang lebih takut (kepada Allah) di antara mereka, (yaitu) yang telah Allah anugerahkan nikmat kepadanya: 'Hai kaumku, masuklah kamu ke negeri suci (Baitul Maqdis) yang telah dijanjikan Allah untukmu, janganlah kamu takut kepada kaum yang kuat itu; dan berserahlah kepada Allah, kerana Dialah Tuhan kami. Jika kamu beriman kepada-Nya, maka mintalah pertolongan kepada-Nya dan bertawakkallah kepada-Nya'. Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka ada di dalamnya. Kalau begitu pergilah engkau beserta Tuhanmu, dan lawanlah mereka itu, sesungguhnya kami tetap akan duduk di sini saja'. Musa berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak memiliki kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Kerana itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu'. Allah berfirman: 'Sesungguhnya negeri itu haram atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berkeliaran di bumi (padang gurun) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang fasik itu'."
Tawakkal Melawan Rasa Takut
Respons Bani Israil adalah cerminan dari kelemahan iman dan dominasi rasa takut fisik daripada takut kepada Allah. Mereka melihat kekuatan musuh (orang-orang perkasa/raksasa) dan langsung menyerah, meminta Musa untuk maju sebagai tameng mereka. Ini adalah bentuk ketidakdewasaan spiritual yang akut.
Dua orang yang bertakwa (disebutkan dalam tafsir sebagai Yusa bin Nun dan Kalib bin Yuqhanna) tampil sebagai representasi iman sejati. Mereka mengingatkan kaumnya bahwa pertolongan sejati datang dari Allah, bukan dari kekuatan fisik manusia. Konsep kunci di sini adalah tawakkal: berusaha semaksimal mungkin sambil menyerahkan hasil akhir kepada kehendak Ilahi.
Penolakan kolektif ini berbuntut pada hukuman yang sangat keras. Allah menetapkan bahwa negeri suci itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, memaksa generasi yang menolak tersebut mati di padang gurun, sementara generasi baru yang lebih siap secara mental dan spiritual yang akan memasukinya. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya ketaatan tanpa syarat.
Surat Al-Ma'idah Ayat 25-30 (Kisah Doa Nabi Musa dan Balasan Allah)
"Musa berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Kerana itu pisahkanlah (departed) antara kami dengan orang-orang yang fasik itu'. Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya negeri itu haram atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan merayau-rayau di bumi (padang gurun itu); maka janganlah kamu bersedih hati (berdukacita) terhadap orang-orang yang fasik itu'."
(Ayat 26-30 melanjutkan pembahasan tentang peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil, yang menjadi latar belakang penting mengenai betapa pentingnya menjaga hukum moral dan keadilan, meskipun kisah ini terjadi jauh sebelum zaman Musa).
Pelajaran dari Kisah Penolakan
Kisah Al-Ma'idah ayat 21-30 menegaskan bahwa janji Allah pasti ditepati, namun untuk mencapainya diperlukan iman yang teguh dan keberanian untuk menghadapi rintangan (amal jam’i). Generasi yang dilatih untuk hidup dalam perbudakan memiliki mentalitas yang menolak tantangan. Mereka lebih memilih kepastian rasa aman yang semu daripada kemuliaan yang dijanjikan Allah.
Hukuman empat puluh tahun adalah masa inkubasi ilahi. Allah memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki mentalitas mereka, membersihkan generasi yang lemah iman, dan melahirkan generasi baru yang siap mewarisi tanah tersebut dengan bekal tauhid yang lebih kuat. Ayat-ayat ini selalu mengingatkan umat Islam bahwa ketika Allah memerintahkan sesuatu yang tampak sulit, tantangannya bukan terletak pada kesulitan fisik semata, tetapi pada ujian keikhlasan dan totalitas kepasrahan (tawakkal) kepada-Nya.