Memahami Surat Al-Isra Ayat 36-40: Batasan Ilmu dan Tanggung Jawab

Ilmu yang Terbatas Keadilan

Surat Al-Isra, atau juga dikenal sebagai Al-Isra' wal Mi'raj, mengandung banyak pelajaran penting mengenai akidah, etika, dan hukum dalam Islam. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, ayat 36 hingga 40 menawarkan panduan mendasar tentang batas pengetahuan manusia, tanggung jawab moral, dan penegasan keesaan Allah SWT. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan bahwa manusia harus berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, karena segala sesuatu telah dicatat dan akan dipertanggungjawabkan.

Teks dan Makna Surat Al-Isra Ayat 36-40

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
(36) Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
(37) Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا
(38) Semua itu jahat di sisi Tuhanmu, yang dilarang-Nya.
ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا
(39) Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (wahai Muhammad). Dan janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain, karena kamu akan dicampakkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan tercela lagi terusir.
أَفَأَصْفَاكُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِينَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِنَاثًا ۚ إِنَّكُمْ لَتَقُولُونَ قَوْلًا عَظِيمًا
(40) Maka apakah Tuhanmu telah mengkhususkan bagimu (kaum Quraisy) anak-anak laki-laki, dan Dia mengambil untuk diri-Nya anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan perkataan yang besar (dosa besar).

Pelajaran Utama dari Ayat 36: Batasan Ilmu dan Pertanggungjawaban

Ayat ke-36 adalah landasan etika intelektual dalam Islam. Allah SWT melarang manusia untuk mengikuti atau berbicara tentang sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu atau pengetahuan yang pasti. Dalam konteks modern, ayat ini sangat relevan terhadap penyebaran berita bohong (hoaks), spekulasi tanpa dasar, atau klaim yang tidak terverifikasi. Lebih lanjut, ayat ini menegaskan bahwa tiga perangkat utama penerima informasi dan pembuat keputusan—yaitu **pendengaran (السمع), penglihatan (البصر), dan hati (الفؤاد)**—semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ini berarti, apa yang kita dengar harus diolah dengan benar, apa yang kita lihat harus dijadikan pelajaran (bukan sekadar tontonan tanpa makna), dan apa yang ada di hati (niat dan keyakinan) haruslah murni karena Allah. Manusia tidak bisa berdalih bahwa ia hanya "mengikuti kata orang" atau "melihat saja"; semua proses itu dicatat dan akan dihisab.

Etika Berjalan dan Bahaya Kesombongan (Ayat 37)

Setelah membahas etika berbicara dan berpikir, ayat 37 beralih ke etika bersikap fisik, yakni larangan berjalan di muka bumi dengan kesombongan (*marahan*). Kesombongan adalah penyakit hati yang merusak hubungan vertikal (dengan Tuhan) dan horizontal (dengan sesama manusia). Allah memberikan analogi kuat: tidak peduli seberapa angkuh langkah seseorang, ia tidak akan mampu menembus bumi (menjadi lebih rendah dari bumi) atau mencapai ketinggian gunung (menjadi lebih tinggi dari gunung). Ini adalah teguran keras terhadap ego manusia yang seringkali merasa superior. Realitas fisik menunjukkan bahwa manusia lemah dan terbatas, sehingga kesombongan adalah klaim yang bertentangan dengan kodrat penciptaan.

Hikmah dan Penegasan Tauhid (Ayat 39-40)

Ayat 39 menyimpulkan bahwa larangan-larangan di atas—larangan berucap tanpa ilmu dan larangan berjalan sombong—adalah bagian dari **hikmah** yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa ajaran moral ini bukan sekadar aturan sosial, melainkan bagian integral dari kebijaksanaan ilahi. Ayat 39 kemudian dilanjutkan dengan penegasan tauhid: jangan menyekutukan Allah. Ancaman bagi mereka yang melakukan kesyirikan sangat jelas, yaitu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan terusir. Ayat 40 secara spesifik menyindir praktik musyrik pada masyarakat Arab saat itu yang meyakini bahwa Allah memiliki anak perempuan (malaikat), sementara mereka sendiri lebih memilih anak laki-laki untuk diri mereka. Allah menanyakan dengan nada retoris, apakah Allah memerlukan 'anak' seperti yang diinginkan manusia? Ini adalah bentuk pengakuan bahwa tuduhan tersebut adalah perkataan yang sangat besar dosanya, karena merendahkan kesempurnaan dan kemandirian Allah SWT. Secara keseluruhan, rentetan ayat Al-Isra 36-40 mengajarkan kita untuk hidup dengan integritas ilmu, rendah hati dalam tindakan, dan memurnikan keyakinan hanya kepada Allah semata, dengan kesadaran penuh bahwa setiap aspek diri kita sedang diawasi dan akan dimintai pertanggungjawaban.
🏠 Homepage