Surat Al-Maidah adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum, perjanjian, dan kritik terhadap praktik umat terdahulu. Ayat ke-28 dari surat ini menyoroti konsekuensi nyata dari perilaku buruk sekelompok umat terdahulu—dalam konteks penafsiran klasik, ayat ini sering kali merujuk pada Bani Israil yang melanggar janji suci (mitsaq) yang telah Allah tetapkan kepada mereka.
Pesan utama ayat ini terbagi menjadi tiga bagian krusial: Konsekuensi Pelanggaran, Sifat Pengkhianatan yang Berulang, dan Sikap yang Diperintahkan kepada Nabi.
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika suatu kaum secara sengaja dan berulang kali melanggar perjanjian penting dengan Tuhan, dampaknya tidak hanya bersifat eksternal (hukuman), tetapi juga internal. Allah menyebutkan bahwa akibat dari pelanggaran tersebut adalah "Kami jadikan hati mereka keras membatu." Hati yang keras adalah penghalang terbesar seorang manusia untuk menerima kebenaran. Ketika hati telah mengeras, mereka kehilangan empati, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk mengambil pelajaran dari peringatan.
Akibat logis dari hati yang keras adalah distorsi terhadap ajaran yang mereka terima. Mereka melakukan "mengubah-ubah firman dari tempat-tempatnya." Ini bukan sekadar kesalahan penerjemahan, melainkan upaya sengaja untuk memutarbalikkan makna agar sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan duniawi mereka. Lebih jauh lagi, mereka "melupakan sebahagian daripada pelajaran yang diberikan kepada mereka," menunjukkan bahwa pengetahuan spiritual telah digantikan oleh kepentingan materi dan kekuasaan.
Allah kemudian memberikan gambaran yang sangat gamblang kepada Rasulullah ﷺ mengenai sifat mereka: "Dan kamu senantiasa akan mendapati pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka." Frasa "senantiasa akan mendapati" menunjukkan bahwa pengkhianatan adalah ciri yang melekat pada mayoritas kelompok tersebut, bukan sekadar insiden sesekali. Sifat munafik dan pengkhianatan ini menjadi budaya yang sulit dihilangkan.
Namun, Islam selalu memberikan ruang bagi pengecualian. Ayat ini secara elegan menyebutkan adanya minoritas yang tetap teguh: "kecuali sedikit di antara mereka." Keberadaan kelompok kecil yang konsisten memegang teguh janji menjadi penyeimbang moral dalam narasi tersebut, mengingatkan bahwa keberkahan dan kebenaran selalu memiliki pengikut setia meskipun jumlahnya sedikit.
Bagian akhir ayat ini adalah penutup yang indah dan sarat hikmah, memberikan instruksi langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ mengenai cara bersikap menghadapi pengkhianatan yang hampir pasti terjadi. Allah berfirman: "Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berbuat baik (Al-Muhsinin)."
Instruksi ini bukanlah penegasan bahwa pengkhianatan harus ditoleransi selamanya tanpa konsekuensi hukum, tetapi lebih kepada anjuran spiritual dan etika dalam interaksi sehari-hari. Nabi diperintahkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan yang setara, menunjukkan kesabaran ekstrem, dan fokus pada perbaikan diri (ihsan). Memafkan di sini adalah tindakan yang menunjukkan superioritas moral dan kedewasaan spiritual, memisahkan sikap Nabi dari reaksi emosional manusia biasa.
Dengan memaafkan dan berlapang dada, Nabi Muhammad ﷺ akan meneladani sifat Allah SWT, yaitu kasih sayang (Rahmah). Seorang Muhsin adalah orang yang berbuat kebaikan melebihi apa yang diwajibkan kepadanya, dan balasan bagi mereka adalah dicintai oleh Allah. Ayat 28 Al-Maidah mengajarkan kita bahwa meskipun kita menghadapi kekecewaan dan pengkhianatan dari orang lain, respons terbaik adalah menjaga integritas diri, memaafkan sebagai jalan menuju kedekatan dengan Tuhan, dan terus berbuat baik tanpa lelah.