Kajian Mendalam Surat Al-Maidah Ayat 50-60: Keadilan dan Pilihan Umat

Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Hukum Ilahi Al-Hukm (Hukum Allah)

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan petunjuk hukum, etika sosial, dan kisah-kisah penting bagi umat Islam. Bagian dari surat ini, khususnya ayat 50 hingga 60, memberikan landasan kuat mengenai kriteria penghakiman, batasan pertemanan dengan kelompok tertentu, serta peringatan tegas bagi mereka yang menolak hukum Allah.

Ayat 50: Hukum di Antara Mereka

وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau menuruti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka membelokkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (menolak hukum Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maidah: 50)

Ayat ini adalah fondasi utama bagi prinsip keadilan dalam Islam. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW—dan secara implisit seluruh umat Islam—untuk berhukum hanya berdasarkan syariat yang diturunkan-Nya. Ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah kewajiban mutlak. Penekanan pada "jangan menuruti keinginan mereka" menunjukkan bahaya besar jika hukum didasarkan pada hawa nafsu, adat istiadat yang bertentangan, atau tekanan sosial.

Peringatan untuk waspada terhadap upaya fitnah (pengalihan) sangat krusial. Sejarah menunjukkan bahwa musuh-musuh kebenaran seringkali menggunakan cara halus untuk menggoda pemegang otoritas agar menyimpang sedikit demi sedikit dari kebenaran. Jika mereka menolak, maka konsekuensinya (sanksi duniawi atau ukhrawi) adalah kehendak Allah akibat kedurhakaan mereka.

Ayat 51-56: Larangan Mengambil Wali dari Non-Muslim

Ayat-ayat selanjutnya membahas isu politik dan sosial yang sensitif, yaitu larangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya (pelindung, pemimpin, atau penolong utama) yang loyalitasnya melebihi loyalitas kepada sesama Muslim. Ayat 51 berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya (pelindung/pemimpin); mereka itu saling melindungi satu sama lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka awliya, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51)

Peringatan ini sering disalahpahami. Konteks utamanya adalah larangan memberikan loyalitas politik tertinggi atau menempatkan mereka dalam posisi kepemimpinan yang strategis yang berpotensi mengancam kedaulatan dan ajaran Islam, terutama ketika mereka secara aktif memusuhi Islam (seperti yang terjadi pada masa turunnya ayat ini). Ayat 52 menegaskan reaksi orang-orang munafik yang khawatir jika umat Islam menjalin kedekatan dengan kaum tersebut, yang menunjukkan betapa krusialnya garis pemisah loyalitas ideologis ini.

Namun, ayat 55 melengkapi batasan ini dengan menjelaskan siapa yang boleh menjadi penolong dalam konteks muamalah sehari-hari: orang-orang yang beriman, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Ayat 56 menegaskan bahwa hanya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang sah menjadi kelompok pendukung utama, karena merekalah yang pasti akan menang (beruntung).

Ayat 57-60: Peringatan Keras Bagi Penolak Hukum

Bagian akhir dari rentetan ayat ini melontarkan peringatan keras kepada mereka yang mengambil orang-orang yang mengejek agama sebagai teman setia, baik dari kalangan Ahli Kitab maupun kaum musyrikin. Ayat 57 secara spesifik menyatakan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَٱلْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai ejekan dan permainan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan orang-orang kafir sebagai awliya (pelindung/teman akrab). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (QS. Al-Maidah: 57)

Ini menunjukkan bahwa sikap penghinaan terhadap ajaran agama adalah pemecah loyalitas terbesar. Tidak peduli latar belakang agama mereka, siapapun yang meremehkan nilai-nilai sakral Islam tidak layak mendapatkan kepercayaan politik atau persahabatan yang erat.

Ayat 59 dan 60 menggarisbawahi konsekuensi dari pengabaian ini. Ketika kaum Muslim dipanggil untuk shalat, mereka yang menolak hukum Allah (yang sebelumnya dikaji pada ayat 50) dan memilih loyalitas kepada pihak luar, akan berpaling dengan rasa benci. Puncak peringatan hadir pada ayat 60, yang menjelaskan bahwa Allah telah mengutuk dan menimpakan murka-Nya kepada mereka yang menjadi kera dan babi (secara metaforis sebagai akibat dari kedurhakaan moral yang ekstrem) serta mereka yang menyembah thaghut.

Kesimpulan Prinsip Keadilan dan Loyalitas

Secara keseluruhan, Surat Al-Maidah ayat 50-60 adalah kompas etika politik dan sosial. Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa supremasi hukum Allah harus dijaga ketat (Ayat 50). Batasan loyalitas harus jelas, terutama dalam konteks kepemimpinan dan keamanan negara, dengan memprioritaskan iman dan ketakwaan (Ayat 51-56). Terakhir, ayat-ayat ini menuntut keberanian moral untuk menjauhi mereka yang merendahkan keyakinan, sebagai syarat utama untuk mempertahankan status sebagai hamba Allah yang bertakwa (Ayat 57-60).

🏠 Homepage