Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah kelima dalam Al-Qur'an. Ayat 6 hingga 10 dari surat ini mengandung salah satu perintah penting mengenai ibadah ritual umat Islam, yaitu tata cara bersuci sebelum melaksanakan shalat, meliputi wudhu, mandi wajib, hingga solusi alternatif berupa tayamum.
Ayat-ayat ini bukan sekadar instruksi teknis, melainkan juga mencakup penekanan pada keadilan, janji Allah SWT kepada orang yang taat, serta pentingnya integritas moral dalam setiap urusan.
Ayat keenam ini adalah landasan utama dalam bersuci.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهُرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Yā ayyuhal-ladhīna āmanū idhā qumtum ilash-shalāti faghsilū wujūhakum wa aydiyakum ilal-marāfiqi wamsahū bi-ru’ūsikum wa arjulakum ilal-ka‘bayn(i)... dst.)"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh wanita, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah: 6)
Setelah perintah ritual, ayat selanjutnya beralih pada perintah moral yang bersifat universal, yaitu menjaga janji dan menegakkan keadilan.
وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
(QS. Al-Ma'idah: 7)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
(QS. Al-Ma'idah: 8)
Ayat 8 secara tegas memerintahkan kaum beriman untuk menjadi penegak keadilan (qawwāmīn) karena Allah semata. Bahkan, kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh mendorong seseorang untuk berlaku tidak adil. Keadilan adalah kunci kedekatan dengan takwa.
Dua ayat penutup dalam rangkaian ini menjelaskan balasan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, serta konsekuensi bagi mereka yang melanggarnya.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
(QS. Al-Ma'idah: 9)
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ خَالِدُونَ فِيهَا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
(QS. Al-Ma'idah: 10)
Rangkaian Al-Ma'idah ayat 6 hingga 10 menunjukkan kesinambungan antara ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah muamalah (sosial). Tata cara wudhu dan tayamum (Ayat 6) adalah fondasi fisik kesucian yang memungkinkan kita menghadap Allah SWT dalam salat. Namun, kesucian fisik ini harus diikuti oleh kesucian moral, yaitu menepati janji dan menjaga prinsip keadilan (Ayat 7-8).
Allah SWT senantiasa memudahkan urusan hamba-Nya, seperti memberikan keringanan tayamum ketika air tidak ditemukan. Kemudahan ini adalah wujud rahmat agar ketaatan kita tidak terputus. Sebagai respons atas kemudahan tersebut, kita didorong untuk selalu berada dalam bingkai keimanan yang menghasilkan amal saleh, demi meraih janji ampunan dan pahala yang dijanjikan di akhir ayat.