Surat Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum, syariat, dan prinsip moralitas fundamental umat Islam. Di antara ayat-ayatnya yang membahas perjanjian, halal-haram, dan kisah-kisah kenabian, terdapat Ayat ke-69 yang memiliki makna universal tentang pentingnya keyakinan dan konsekuensi amal perbuatan.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Ma'idah Ayat 69
لَيۡسُواْ سَوَآءً ۗ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتۡلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ وَهُمۡ يَسۡجُدُونَ
(QS. Al-Ma’idah [5]: 69) Sesungguhnya Ahli Kitab itu tidak sama di antara mereka. Di antara mereka terdapat suatu umat yang teguh (melaksanakan ajaran Allah), yang membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, sedang mereka juga sujud (salat).
Konteks Historis dan Pesan Utama
Ayat 69 ini turun dalam konteks interaksi antara Muslimin dengan komunitas Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab) di Madinah. Ayat ini berfungsi sebagai penegasan bahwa meskipun mereka berasal dari kelompok yang sama (Ahli Kitab), tidak semua individu di dalamnya memiliki kualitas spiritual yang setara. Allah SWT membedakan kelompok-kelompok tersebut berdasarkan konsistensi mereka dalam ketaatan kepada wahyu yang telah diturunkan kepada mereka.
Pesan sentral dari ayat ini adalah **penghargaan terhadap konsistensi dalam ibadah dan ketaatan**. Ayat ini memuji kelompok tertentu dari Ahli Kitab yang digambarkan memiliki tiga karakteristik utama: pertama, mereka adalah umatun qā’imatun (umat yang teguh/berdiri tegak) dalam kebenaran ajaran mereka. Kedua, mereka secara rutin melantunkan ayat-ayat Allah ānā’a al-layl (di waktu malam). Dan ketiga, mereka secara kontinyu melaksanakan ibadah sujud, sebuah simbol ketundukan mutlak kepada Tuhan.
Mengambil Pelajaran Bagi Umat Islam
Meskipun ayat ini berbicara spesifik tentang segmen Ahli Kitab yang saleh, hikmahnya sangat relevan bagi umat Islam. Ayat ini menunjukkan standar yang tinggi dari Allah SWT terhadap para hamba-Nya yang beriman. Kualitas spiritual seseorang tidak diukur dari label kelompoknya semata, melainkan dari kualitas amalnya.
1. Keteguhan (Qā’imatun): Keteguhan berarti berpegang teguh pada prinsip tauhid dan hukum Allah meskipun menghadapi godaan atau tantangan. Ini adalah fondasi yang harus dimiliki oleh setiap muslim—keteguhan dalam akidah, akhlak, dan syariat.
2. Kedekatan Malam Hari: Frasa "membaca ayat-ayat Allah pada malam hari" menyoroti keutamaan ibadah sunyi di mana hati lebih fokus dan jauh dari hiruk pikuk dunia. Tahajjud dan qiyamul lail adalah sarana untuk menguatkan jiwa dan membersihkan hati dari kesombongan siang hari. Kelompok yang dipuji ini menunjukkan bahwa kedalaman spiritual mereka teruji saat dunia sedang terlelap.
3. Ibadah Fisik yang Rendah Hati: Sujud adalah puncak penghambaan. Ayat ini menegaskan bahwa pujian Allah ditujukan kepada mereka yang menggabungkan pemahaman (membaca ayat) dengan implementasi fisik (sujud). Ini mengingatkan bahwa iman harus diekspresikan melalui ketaatan total.
Bukan Persamaan, Melainkan Kriteria Ketaatan
Frasa "Laisū sawā’an" (tidak sama di antara mereka) adalah peringatan keras. Dalam Islam, klaim beriman tidak cukup hanya dengan nasab atau pengakuan lisan. Ayat ini mengajarkan prinsip universal bahwa gradasi spiritual dan moralitas akan selalu ada di antara anggota suatu kelompok agama. Akan selalu ada yang konsisten berada di garis depan ketaatan, dan yang lain cenderung menyimpang.
Bagi seorang muslim, Al-Ma'idah ayat 69 menjadi cermin untuk introspeksi. Sudahkah kita menjadi bagian dari "umat yang teguh" tersebut? Apakah kita menjadikan malam hari sebagai momen perenungan mendalam dengan Kalamullah? Dengan merenungkan ayat ini, umat Islam didorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, menjadikan konsistensi dalam ibadah malam dan keteguhan hati sebagai tolok ukur sejati di hadapan Allah SWT, terlepas dari perbandingan dengan kelompok lain.