Menyelami Makna "Aqimis Shalat" dalam Konteks Surah Al-Isra

Shalat

Ilustrasi simbolis perintah mendirikan shalat.

Surah Al-Isra dan Perintah Sentral

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat di Al-Qur'an yang kaya akan hikmah, kisah sejarah, dan ajaran moral. Di antara banyak perintah yang terkandung di dalamnya, satu frasa kunci yang terus berulang dan menjadi penekanan adalah "Aqimis Shalat" (أَقِمِ الصَّلَاةَ), yang berarti dirikanlah shalat. Perintah ini bukan sekadar saran, melainkan pilar utama dalam menjalankan ajaran Islam, sebagaimana termaktub jelas dalam ayat-ayat krusial.

Dalam konteks Surah Al-Isra, perintah ini seringkali dikaitkan dengan waktu-waktu tertentu, menunjukkan kesinambungan ibadah sepanjang siklus kehidupan seorang Muslim. Ini menegaskan bahwa hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya harus dijaga secara konsisten, tanpa memandang kesibukan duniawi.

Ayat Kunci Mengenai Keteguhan Shalat

Salah satu ayat paling terkenal dalam surat ini yang menegaskan kewajiban shalat adalah firman Allah SWT:

"Dirikanlah shalat dari condongnya matahari (ke barat) sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) shalat fajar. Sesungguhnya shalat fajar itu menyaksikan (malaikat)." (QS. Al-Isra [17]: 78)

Ayat 78 ini secara eksplisit membagi waktu pelaksanaan shalat yang wajib dalam sehari. Frasa "Aqimis Shalat" di sini mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar melakukan gerakan fisik. "Iqamah" (قام - يَقُومُ - إِقَامَةٌ) menyiratkan pendirian, penegasan, dan pelaksanaan shalat secara sempurna, baik dari segi waktu, rukun, syarat, maupun kekhusyukan batin. Ini berarti shalat harus ditegakkan seolah-olah ia adalah tiang penopang kehidupan spiritual.

Keterkaitan shalat dengan waktu tergelincirnya matahari hingga gelap malam mencakup seluruh rentang shalat wajib, mulai dari Dzuhur, Ashar, Maghrib, hingga Isya. Penekanan pada shalat Fajar (Subuh) yang disaksikan malaikat menunjukkan betapa istimewanya ibadah di awal hari, ketika energi fisik dan spiritual sedang dalam kondisi prima.

Hikmah Pengulangan Perintah "Aqimis Shalat"

Mengapa perintah mendirikan shalat diulang berkali-kali dalam Al-Qur'an, termasuk dalam Al-Isra? Hal ini menunjukkan urgensi dan vitalitasnya. Shalat adalah jangkar. Ketika seseorang terbiasa menegakkan shalat tepat waktu dengan penuh kesadaran, ia akan memiliki disiplin diri yang lebih baik dalam aspek kehidupan lainnya.

Disiplin ini sangat relevan dengan pesan-pesan moral lain dalam Surah Al-Isra, seperti larangan berbuat syirik, berbuat aniaya, berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta, dan larangan membunuh anak karena kemiskinan. Shalat yang ditegakkan dengan benar berfungsi sebagai katup pengaman moral. Kekuatan spiritual yang didapat dari komunikasi langsung dengan Allah SWT membekali mukmin untuk menghindari larangan-larangan tersebut. Jika tiang utama (shalat) kokoh, maka bangunan akhlak akan lebih sulit roboh.

Lebih lanjut, penegakan shalat di tengah tantangan hidup—yang digambarkan sebagai peralihan dari terang siang ke gelap malam—mengajarkan umat Islam untuk tidak pernah meninggalkan tanggung jawab ibadah, meskipun godaan atau kesulitan dunia sedang memuncak. Shalat adalah tempat kembali, tempat jiwa mencari ketenangan dan petunjuk.

Implikasi Spiritual dan Sosial

"Aqimis Shalat" bukan hanya urusan personal. Ketika shalat ditegakkan secara kolektif (berjamaah), ia membentuk struktur sosial yang solid. Surah Al-Isra memberikan landasan bahwa komunitas yang kuat dibangun di atas fondasi ketaatan individu kepada Allah. Shalat berjamaah melatih empati, kesamaan tujuan, dan menghilangkan sekat-sekat sosial karena semua orang berdiri sejajar menghadap kiblat yang sama.

Inti dari perintah ini adalah pengingat konstan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Shalat mengingatkan kita pada tujuan akhir eksistensi kita, yaitu meraih ridha Ilahi. Dengan menaati perintah "Aqimis Shalat" sebagaimana yang ditekankan dalam Surah Al-Isra, seorang Muslim menata ulang prioritas hidupnya, menempatkan hubungan dengan Sang Pencipta sebagai prioritas utama, yang pada akhirnya akan membawa dampak positif pada interaksinya dengan sesama manusia dan alam semesta.

🏠 Homepage