Konteks dan Hikmah Surat Al-Ma'idah Ayat 72-77

Ilustrasi peringatan Tauhid Visualisasi peringatan keras terhadap syirik, menampilkan rantai yang putus dan cahaya kebenaran. لا إله Kekuatan Sejati

Pengantar Ayat

Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, syariat, dan peringatan keras terhadap penyimpangan akidah. Ayat 72 hingga 77 secara spesifik memuat teguran tegas dari Allah SWT kepada mereka yang menyekutukan-Nya (syirik), khususnya merujuk pada klaim ketuhanan Isa bin Maryam, serta konsekuensi mengerikan dari keyakinan yang salah tersebut. Ayat-ayat ini menjadi landasan utama dalam Islam mengenai pentingnya Tauhid (mengesakan Allah) dan bahaya kekufuran.

Teks dan Terjemahan Ayat

QS. Al-Ma'idah Ayat 72

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam." Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi?" Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya-lah tempat kembali.

QS. Al-Ma'idah Ayat 73

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga (Trinitas)." Padahal tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, niscaya orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

Ayat 72 dan 73 secara lugas menolak dua keyakinan utama dalam Kekristenan saat itu: klaim ketuhanan Isa Al-Masih, dan konsep Trinitas (Tiga Tuhan). Allah menegaskan bahwa kekuasaan-Nya mutlak, tidak ada yang dapat menandingi kehendak-Nya, dan hanya Dialah pemilik segala sesuatu.

Peringatan Terhadap Kekufuran dan Pengaruh Duniawi

Melanjutkan rangkaian peringatan, ayat 74 dan 75 membahas tentang perlunya bertobat dan kembali kepada kebenaran, sambil mengingatkan tentang betapa ironisnya menyembah sesuatu yang sendiri memerlukan penyembahan.

QS. Al-Ma'idah Ayat 74 - 75

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ... مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۖ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang telah lewat sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat membenarkan (Ash-Shiddiqah). Keduanya biasa memakan makanan (seperti manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (darinya).

Ayat 75 memberikan deskripsi logis: jika Isa adalah Tuhan, mengapa ia dan ibunya (yang mulia) masih membutuhkan makanan? Kebutuhan fisik adalah ciri makhluk, bukan pencipta. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan kembali status Isa sebagai rasul yang diutus, bukan sebagai ilah.

Konsekuensi Akhirat: Neraka Bagi Kaum Musyrikin

Bagian akhir dari rentetan ayat ini mengarahkan fokus pada konsekuensi abadi bagi mereka yang tetap memilih kekufuran dan syirik, bahkan setelah kebenaran ditunjukkan dengan jelas.

QS. Al-Ma'idah Ayat 76 - 77

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ... قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah, "Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk memberi mudarat atau manfaat kepadamu?" Padahal Allah jualah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, "Wahai Ahlulkitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agamamu yang tidak benar dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang sungguh-sungguh telah sesat dahulu dan mereka menyesatkan banyak orang, serta mereka telah jauh dari jalan yang benar."

Ayat 76 adalah tantangan retoris: bagaimana mungkin menyembah sesuatu yang tidak memiliki kuasa atas diri penyembahnya sendiri? Sementara itu, ayat 77 secara khusus ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), memperingatkan mereka agar tidak bersikap ghuluw (berlebihan) dalam memuliakan nabi atau rasul hingga mengangkat mereka ke derajat ilahi. Ini adalah peringatan universal agar umat berpegang teguh pada batasan syariat dan menjauhi kesesatan historis yang telah menyesatkan banyak umat sebelumnya.

Keseluruhan ayat 72 hingga 77 Al-Ma'idah menekankan pentingnya pemahaman akidah yang lurus, bahaya bid'ah dan syirik, serta penegasan kemutlakan kekuasaan Allah SWT semata.

🏠 Homepage