Surat Al-Maidah adalah surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika, dan sejarah penting dalam Islam. Khususnya pada rentang ayat 81 hingga 100, kita dipertemukan dengan berbagai pesan mendalam mengenai loyalitas, tanggung jawab sosial, dan pentingnya meneladani siklus kehidupan umat terdahulu. Ayat-ayat ini seringkali menjadi landasan penting dalam pembahasan akidah dan muamalah.
Kedekatan dengan Allah dan Peringatan Keras (Ayat 81-86)
Ayat-ayat awal dalam segmen ini sering menyoroti perbandingan antara kelompok yang sangat keras hati dan kelompok yang lembut serta mau menerima kebenaran. Ayat 82 sering dikutip ketika membahas tentang bagaimana orang-orang Yahudi, meskipun memiliki kitab suci, seringkali menunjukkan permusuhan yang paling besar terhadap kaum Mukminin. Ini adalah pelajaran penting tentang bahaya kesombongan intelektual dan penolakan terhadap wahyu.
Lebih lanjut, ayat-ayat ini memberikan kabar gembira bagi mereka yang mendekatkan diri kepada Allah, yaitu para rahib (ulama) dan para biarawan yang bersikap khusyuk, sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat yang memuji sifat kerendahan hati mereka saat mendengar kebenaran. Ini menunjukkan bahwa pintu rahmat Allah terbuka bagi siapa pun yang mencari kebenaran dengan hati yang lapang, terlepas dari latar belakang etnis atau denominasi awal mereka.
Kewajiban Taat dan Pentingnya Keadilan (Ayat 87-91)
Memasuki bagian tengah rentang ayat ini, penekanan beralih pada etika seorang Muslim dalam mengelola kehidupan duniawi dan ukhrawi. Allah SWT memerintahkan untuk tidak mengharamkan hal-hal baik yang telah dihalalkan-Nya, tetapi juga mengingatkan bahwa melampaui batas (ifrat dan tafrit) adalah perbuatan tercela. Aturan ini sangat relevan dalam kehidupan modern yang penuh dengan batasan-batasan yang dibuat manusia.
Ilustrasi Keadilan dan Wahyu
Ayat 88 secara tegas memerintahkan umat Islam untuk memakan rezeki yang halal dan baik (thayyib) dari apa yang telah dianugerahkan Allah, serta menghindari sumpah palsu. Ini menetapkan fondasi ekonomi seorang Muslim yang harus didasarkan pada kejujuran dan keberkahan.
Puncak dari bagian ini adalah peringatan keras mengenai minuman keras (khamar) dan perjudian (maisir) yang disebut sebagai perbuatan keji dan termasuk tipu daya setan (Ayat 90). Larangan ini bukan sekadar aturan biasa, melainkan ajakan untuk membersihkan jiwa dari segala sesuatu yang dapat merusak akal dan memicu permusuhan serta kelalaian dari mengingat Allah.
Aturan Berburu dan Pentingnya Pengorbanan (Ayat 92-100)
Ketika membahas aturan berburu saat sedang dalam keadaan ihram (Ayat 95-96), Al-Maidah menunjukkan betapa detailnya syariat Islam dalam mengatur setiap aspek kehidupan, termasuk ketika sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah. Keharusan membayar denda (kafarat) menunjukkan bahwa bahkan dalam konteks ibadah yang suci, pelanggaran terhadap aturan—meskipun tidak disengaja—tetap memiliki konsekuensi yang harus ditebus.
Ayat 96 menjadi penutup yang indah terkait Laut dan daratan. Lautan dan isinya dihalalkan sebagai rezeki untuk dinikmati oleh seluruh umat manusia. Ayat ini seringkali menjadi dalil kuat bagi kebolehan memanfaatkan kekayaan alam laut, selama dilakukan dengan cara yang sah dan tidak merusak.
Bagian akhir rentang ayat ini (Ayat 98-100) memberikan penegasan tentang posisi Nabi Muhammad SAW dan tugas utama beliau. Ayat 98 mengingatkan bahwa keridhaan dan rahmat Allah jauh lebih utama daripada kesenangan duniawi. Ayat terakhir, Ayat 100, mengandung kaidah ushul fiqh yang sangat fundamental: “Katakanlah: 'Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu'."
Kaidah ini adalah peringatan abadi agar seorang Muslim tidak tertipu oleh kuantitas atau kemewahan hal-hal yang diharamkan. Kebenaran yang sedikit namun murni (baik) jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada keburukan yang terlihat banyak dan menggiurkan.