Kajian Mendalam: Surat Al Maidah Ayat 90 dan 91

Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat 90 dan 91 dari surat ini mengandung peringatan keras dari Allah SWT mengenai bahaya meminum khamr (minuman keras), berjudi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah. Kedua ayat ini menjadi landasan utama dalam syariat Islam yang melarang keras praktik-praktik tersebut karena dampaknya yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Ilustrasi Peringatan dalam Ayat

JAUHI

Ayat-ayat ini secara tegas menyerukan orang-orang beriman untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang merusak fitrah dan tatanan sosial. Kata kunci Surat Al Maidah Ayat 90 91 dan Artinya menggarisbawahi pentingnya memahami larangan ini secara mendalam.

Teks Arab, Transliterasi, dan Terjemahan Ayat 90

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Innamal khamru wal maisiru wal ansaabu wal azlaamu rijsun min ‘amalis syaithooni fajtanibuuhu la’allakum tuflihuun(a).
Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah najis (perbuatan keji) dari perbuatan setan, maka jauhilah ia agar kamu beruntung.

Penjelasan Ayat 90

Ayat ini menetapkan empat hal utama sebagai kekejian yang bersumber dari perbuatan setan, yaitu khamr (segala sesuatu yang memabukkan), maisir (judi dalam segala bentuknya), anshab (berhala atau batu tempat sesaji persembahan selain kepada Allah), dan azlam (perjudian menggunakan panah). Allah memerintahkan orang beriman untuk menjauhi secara total (fajtanibuhu). Tujuannya jelas: agar mencapai keberuntungan (laf'allakum tuflihuun), yaitu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam konteks modern, larangan ini meluas mencakup semua zat adiktif yang menghilangkan akal, serta segala bentuk perjudian yang mengandung unsur penipuan atau ketidakadilan nasib, termasuk skema cepat kaya yang mengandung unsur spekulasi tinggi tanpa usaha nyata.

Teks Arab, Transliterasi, dan Terjemahan Ayat 91

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ
Innamay yuriidush syaithoonu ay yuuqi’a bainakumul ‘adaawata wal baghdaa’a fil khamri wal maisiri wa yasuddakum ‘an dzikrillahi wa ‘anish sholaati fahal antum muntahuun(a).
Sesungguhnya syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan kemaksiatan itu).

Penjelasan Ayat 91

Ayat selanjutnya menjelaskan dampak destruktif dari khamr dan judi. Syaitan menggunakan dua perbuatan keji ini sebagai alat untuk menanamkan dua penyakit sosial utama: permusuhan (al-'adaawah) dan kebencian (al-baghdaa'). Kehilangan akal akibat khamr memicu pertengkaran, sementara judi menimbulkan iri hati dan permusuhan antara yang menang dan yang kalah.

Lebih jauh lagi, kerusakan terbesar adalah terhalangnya seorang hamba dari dua tiang utama agama: mengingat Allah (dzikrullah) dan melaksanakan salat. Ketika akal terganggu dan hati dipenuhi permusuhan, mustahil seorang Muslim dapat menjalankan kewajiban spiritualnya dengan khusyuk. Ayat ini ditutup dengan pertanyaan retoris yang menekan kesadaran hati orang beriman: fahal antum muntahuun (Maka berhentikah kamu?). Pertanyaan ini menuntut adanya respons dan komitmen tegas untuk menghentikan praktik tersebut.

Hikmah dan Relevansi Kontemporer

Kajian terhadap Surat Al Maidah Ayat 90 91 dan Artinya memberikan pelajaran universal. Larangan ini bukan sekadar aturan ritualistik, melainkan prinsip kesehatan sosial dan spiritual. Kerugian akibat alkohol dan judi tidak hanya bersifat individual (kesehatan fisik dan mental) tetapi juga kolektif (keretakan rumah tangga, kriminalitas, dan kemiskinan).

Penjauhan diri dari hal-hal tersebut diyakini akan membuka pintu menuju keberuntungan sejati. Keberuntungan dalam Islam didefinisikan bukan hanya sebagai kesuksesan materi, tetapi sebagai kemenangan dalam menjaga hubungan baik dengan Pencipta dan sesama manusia, yang mana hal itu mustahil tercapai jika pikiran dikuasai oleh hawa nafsu yang ditimbulkan oleh khamr dan maisir.

Oleh karena itu, umat Islam wajib memahami makna mendalam dari ayat-ayat ini dan menerapkannya sebagai benteng pertahanan moral bagi diri sendiri dan lingkungannya, memastikan bahwa energi dan waktu hanya digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah SWT.

🏠 Homepage