Keagungan Ka'bah dan Peringatan Penting dari Surat Al-Maidah Ayat 97

Ilustrasi Ka'bah sebagai Pusat Ibadah Tiang Panduan Umat

Salah satu ayat yang seringkali menjadi pengingat fundamental bagi umat Islam mengenai tanggung jawab spiritual dan fungsi sentral ibadah adalah Surat Al-Maidah ayat 97. Ayat ini, yang terletak di penghujung Surat Al-Maidah, bukan sekadar perintah rutin, melainkan sebuah pilar yang menegaskan kedudukan Ka'bah di Mekkah sebagai titik fokus persatuan dan ibadah.

Teks dan Terjemahan Ayat

جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلۡكَعۡبَةَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ وَٱلشَّهۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَٱلۡهَدۡىَ وَٱلۡقَلَٰٓئِدَۚ ذَٰلِكَ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ
"Allah telah menjadikan Ka’bah, Baitullah yang suci itu sebagai pusat ibadah bagi manusia, dan (dijadikan pula suci) bulan-bulan haram, hady (hewan korban), dan qala’id (tanda pada hewan korban). (Hal yang demikian itu) supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 97)

Ka'bah: Pilar Kehidupan Spiritual Umat

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Qiyāman li an-nās" (قِيَٰمٗا لِّلنَّاسِ), yang diterjemahkan sebagai "berdiri tegaknya" atau "pusat ibadah" bagi manusia. Penafsiran ulama mengenai "qiyām" sangat mendalam. Ini berarti bahwa Ka'bah bukan hanya sekadar bangunan fisik; ia adalah fondasi yang menstabilkan urusan agama dan duniawi umat Islam. Tanpa Ka'bah sebagai kiblat tunggal, umat akan terpecah belah dalam orientasi ibadah mereka.

Bayangkan miliaran Muslim di seluruh dunia, dari Indonesia hingga Maroko, dari Amerika hingga Australia. Ketika waktu shalat tiba, arah mata mereka terpusat pada satu titik: Ka'bah. Kesatuan arah ini melambangkan kesatuan iman dan akidah. Inilah yang dimaksud dengan pilar penegak—ia menegakkan keteraturan spiritual kolektif kita.

Aspek Kesucian dan Perlindungan

Ayat ini secara spesifik menyebutkan Ka'bah sebagai Baitullahil Haram (Rumah Allah yang Suci). Kehormatan ini disertai dengan penetapan hukum syariat yang mengelilinginya. Allah SWT juga menetapkan waktu-waktu suci, yaitu bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), di mana perang dilarang, demi memberikan keamanan bagi mereka yang ingin menunaikan ibadah haji atau umrah.

Selain itu, ayat ini juga berkaitan erat dengan praktik Hady (hewan kurban yang dibawa bersamaan dengan ibadah haji) dan Qala'id (tanda pengenal yang dipasang pada hewan kurban tersebut). Dengan menetapkan semua ini sebagai hal yang suci, Allah mengajarkan sebuah prinsip universal: bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh penghormatan, niat yang tulus, dan dalam kondisi aman.

Dimensi Pengetahuan Ilahi

Bagian akhir dari Surat Al-Maidah ayat 97 memberikan penutup yang kuat tentang sifat Allah SWT: "supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Kaitan antara penetapan Ka'bah dan pengetahuan Allah SWT adalah pelajaran tauhid yang mendalam. Allah menetapkan ritual yang terlihat kompleks bagi manusia (seperti orientasi kiblat, waktu haji, jenis kurban) bukan tanpa alasan. Semua itu dilakukan agar manusia sadar bahwa di balik setiap ketetapan syariat terdapat hikmah dan pengetahuan yang luas, melebihi pemahaman rasio terbatas manusia. Ketika kita melaksanakan perintah tersebut, kita mengakui keilmuan Allah yang mencakup segala sesuatu—baik yang tersembunyi di langit maupun yang terlihat di bumi.

Oleh karena itu, merenungkan Al-Maidah ayat 97 harus mendorong seorang Muslim untuk tidak hanya menunaikan ritual haji atau shalat lima waktu dengan menghadap Ka'bah, tetapi juga untuk menghayati makna kesatuan, penghormatan terhadap kesucian, dan kepatuhan total terhadap Sang Maha Mengetahui. Ka'bah adalah pengingat abadi bahwa ibadah kita terstruktur, terarah, dan sepenuhnya berada dalam pengawasan dan pengetahuan Allah yang Maha Luas.

Memahami ayat ini berarti memahami bahwa fungsi ritual kita adalah untuk menegakkan keteraturan hidup kita sendiri di bawah naungan hukum Allah yang Maha Bijaksana.

🏠 Homepage