Surat Al-Maidah, surat kelima dalam susunan Mushaf Al-Qur'an, dikenal sebagai salah satu surat Madaniyah yang membahas banyak aspek hukum, perjanjian, serta kisah-kisah kenabian. Di antara ayat-ayatnya yang mengandung hikmah mendalam, terdapat ayat ke-98 yang seringkali dijadikan landasan penting mengenai kesadaran spiritual dan pertanggungjawaban akhirat. Ayat ini secara eksplisit menegaskan posisi Allah sebagai penguasa tunggal dan penentu keadilan tertinggi.
"Bagi Allah-lah kepunyaan langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 98)
Inti dari Surat Al-Maidah ayat 98 adalah penegasan monoteisme radikal mengenai kepemilikan dan kekuasaan. Ayat ini dimulai dengan penegasan yang tegas: "Bagi Allah-lah kepunyaan langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya." Frasa ini menutup segala bentuk kesyirikan atau pengakuan terhadap tandingan kekuasaan selain Allah SWT. Langit (atomosfer, bintang, galaksi) dan bumi (material, kehidupan, sejarah) beserta segala isinya, termasuk manusia, jin, malaikat, dan makhluk tak kasat mata lainnya, semuanya berada di bawah administrasi dan kepemilikan-Nya secara absolut.
Penegasan kepemilikan ini bukan sekadar klaim teoritis, melainkan fondasi bagi pemahaman seorang Muslim tentang cara hidup. Jika pemilik segalanya adalah Allah, maka hukum dan perintah-Nya adalah hukum tertinggi yang harus ditaati tanpa syarat. Tidak ada entitas, penguasa duniawi, filsafat, atau ideologi lain yang berhak menantang kedaulatan-Nya.
Ayat diakhiri dengan sifat agung Allah, yaitu "Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qadirun 'ala kulli syai')". Sifat Al-Qudrah ini mengikat erat sifat kepemilikan sebelumnya. Kepemilikan tanpa kemampuan untuk bertindak (kuasa) akan menjadi kepemilikan yang pasif. Namun, karena Allah Maha Kuasa, kepemilikan-Nya adalah kepemilikan yang aktif, yang berarti Dia mampu mengatur, menghidupkan, mematikan, memberi balasan, dan menghukum kapan pun Dia kehendaki.
Dalam konteks tafsir yang lebih luas, ayat ini seringkali diletakkan setelah ayat-ayat yang membahas tentang perbandingan antara orang yang beriman dengan orang yang ingkar, atau antara orang yang mengikuti syariat dengan yang menyimpang. Dengan menegaskan bahwa Allah adalah Penguasa mutlak, pesan moral yang tersampaikan adalah: segala usaha penentangan terhadap kebenaran Ilahi adalah sia-sia di hadapan Kuasa-Nya yang tak terbatas.
Pemahaman mendalam terhadap Al-Maidah ayat 98 membawa implikasi besar dalam kehidupan sehari-hari seorang mukmin.
Oleh karena itu, Al-Maidah ayat 98 berfungsi sebagai jangkar teologis. Ia mengajak setiap jiwa untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, merenungkan luasnya kekuasaan Allah, dan mengarahkan segala bentuk penghambaan (ibadah) hanya kepada-Nya, Sang Pencipta dan Pemilik Alam Semesta yang Maha Kuasa atas setiap pergerakan dan kejadian. Keindahan ayat ini terletak pada kesederhanaan kalimatnya namun mengandung kedalaman konsep tauhid yang tak terlukiskan.