Surat Al-Maidah (Hidangan) adalah surat ke-5 dalam Al-Qur'an, yang diturunkan di Madinah. Surat ini termasuk golongan Madaniyah dan dikenal sebagai salah satu surat terpanjang. Nama "Al-Maidah" diambil dari ayat ke-114, yang mengisahkan permintaan kaum Nabi Isa alaihis salam kepada Allah SWT untuk menurunkan hidangan dari langit.
Isi surat ini sangat kaya, mencakup berbagai aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari hukum-hukum syariat, kewajiban menepati janji, tata cara ibadah haji, hingga kisah-kisah penting mengenai umat terdahulu dan hubungan antara umat Islam dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Memahami artinya adalah kunci untuk mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
(QS. 5:3) Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agamamu.
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
(QS. 5:32) Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena (membuat) kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
(QS. 5:51) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya (pemimpin atau pelindung); mereka satu sama lain adalah awliya (sekutu). Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi awliya, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
(QS. 5:1) Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah segala janji (akad). Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (dilarang), dengan tidak menghalalkan memburu binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan apa saja yang Dia kehendaki.
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
(QS. 5:114) ‘Isa putera Maryam berdoa, "Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan (Ma’idah) dari langit, yang menjadi hidangan bagi kami, baik bagi yang hadir maupun yang datang, dan menjadi tanda dari Engkau; berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik."
Surat Al-Maidah memberikan landasan hukum yang kuat bagi umat Islam. Selain mengatur tentang makanan halal dan haram (yang dijelaskan di awal surat), surat ini sangat menekankan pentingnya menunaikan janji (Al-'Uqud) dan menegakkan keadilan (Al-Qisth) tanpa memandang suku, ras, atau afiliasi keagamaan. Prinsip keadilan ini harus menjadi pedoman utama dalam interaksi sosial dan politik.
Ayat 51 sering menjadi sorotan karena membahas batasan loyalitas terhadap non-Muslim, yang dalam konteksnya adalah menjaga identitas keimanan dan tidak menjadikan mereka sebagai pelindung utama dalam urusan agama. Namun, perlu diingat bahwa surat ini juga memuji orang-orang yang memiliki kerendahan hati dari kalangan Ahli Kitab (seperti dalam ayat 82).
Secara keseluruhan, Al-Maidah adalah manual komprehensif yang menuntut umat Islam untuk hidup dalam kepatuhan total terhadap syariat Allah, menjaga moralitas tertinggi, dan selalu berpegang teguh pada keadilan Ilahi dalam setiap aspek kehidupan.