QS. Al-Maidah Ayat 1 - 5
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
Yā ayyuhal-ladhīna āmanū aufū bil-‘uqūd(i), uḥillat lakum bahīmatul-an‘āmi illā mā yutlā ‘alaikum ghayra muḥillīṣ-ṣaydi wa antum ḥurum(un), innallāha yaḥkumu mā yurīd(u).
(Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah segala janji (akad). Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu [dilarang memakannya], dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai kehendak-Nya.)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۖ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Yā ayyuhal-ladhīna āmanū lā tuḥillū sya‘ā’irallāhi wa lasy-syahral-ḥarāma wa lal-hadya wa lal-qala’ida wa lā āmmīnal-baital-ḥarāma yabtaghūna faḍlam mir rabbihim wa riḍwānā(n), wa idhā ḥalaltum fastādu, wa lā yajrimannakum syana’ānu qaumin an ṣaddūkum ‘anil-masjidal-ḥarāmi an ta‘tadū, wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā, wa lā ta‘āwanū ‘alal-itsmi wal-‘udwān, wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb.
(Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar kesucian syiar-syiar Allah, jangan pula (melanggar kehormatan) bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan kurban yang dipersembahkan ke Baitullah), jangan pula (mengganggu) orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Dan apabila kamu telah halal ihram (selesai dari ihram), maka burulah (sekarang kamu boleh berburu). Dan janganlah kebencian suatu kaum yang pernah menghalangimu dari Masjidilharam mendorongmu untuk melanggar batas (berbuat zalim). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat keras hukuman-Nya.)
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Ḥurrimat ‘alaikumul-maitatu waddamu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla lighayrillaahi bihi wal-munkhaniqatu wal-mauqūdatu wal-mutaraddiyatu wan-naṭīḥatu wa mā akalas-sabu‘u illā mā dzakkaitum wa mā dzubiḥa ‘alan-nuṣubi wa an tastaqsimū bil-azlām(i), dzālikum fisq(un), al-yauma ya’isal-ladhīna kafarū min dīnikum falā takhshawhum wakhshawn(i), al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā(n), faman iḍṭurra fī makhmaṣatin ghayra mutajānin li-itsmin fa innal-lāha ghafūrun raḥīm(un).
(Artinya: Diharamkan bagimu (mengkonsumsi) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih sebelum mati, dan (diharamkan) bagimu binatang yang disembelih untuk berhala, dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah. (Ketentuan) itu adalah suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.)
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Yas’alūnaka mādhā uḥilla lahum, qul uḥilal lakumuth-thayyibātu wa mā ‘allamtum minal-jawāriḥi mukallibīna tu‘allimūnahunna mimmā ‘allamakumullāhu, fakulū mimmā amsakna ‘alaikum wadhkurusmallāhi ‘alaihi, wattaqullāh, innallāha sarī‘ul-ḥisāb.
(Artinya: Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan bagimu (makanan) yang baik-baik dan (buruan) yang ditangkap oleh binatang pemburu yang telah kamu latih dengan melatihnya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (Bismillah) ketika memakannya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.)
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Al-yauma uḥilal lakumuth-thayyibāt, wa ṭa‘āmul-ladhīna ūtul-kitāba ḥillum lakum wa ṭa‘āmakum ḥillum lahum, wal-muḥṣanātu minal-mu’mināti wal-muḥṣanātu minal-ladhīna ūtul-kitāba min qablikum idhā ātaitumūhunna ujūrahunna muḥṣinīna ghayra musāfiḥīna wa lā muttakhidhī akhdān(in), wa may yakfur bil-īmāni faqad ḥabiṭa ‘amaluhu wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn.
(Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik; makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. Dan dihalalkan menikahi, wanita yang menjaga kehormatan dari golongan orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, jika kamu memberikan mahar kepada mereka, sedang mereka dalam keadaan menikah, bukan sebagai pezina dan bukan pula menjadikan mereka sebagai pacar rahasia. Barangsiapa murtad dari agama-mu setelah ia beriman, maka terhapuslah amalannya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.)
Penyempurnaan Agama dan Konsekuensinya
Ayat ketiga dari Surat Al-Maidah, yang sering dikutip, memuat pernyataan luar biasa dari Allah SWT: "Al-yauma akmaltu lakum dīnakum..." (Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu...). Pernyataan ini menandakan puncak kenabian dan kesempurnaan syariat Islam. Ini adalah nikmat terbesar yang diberikan kepada umat Islam, di mana hukum-hukum dasar, prinsip etika, dan tata cara beribadah telah ditetapkan secara utuh.
Kesempurnaan ini membawa konsekuensi penting, yaitu keharusan bagi setiap Muslim untuk taat sepenuhnya dan tidak mencari hukum atau pedoman dari luar kerangka yang telah ditetapkan. Surat ini juga memberikan landasan kuat mengenai hal-hal yang diharamkan (seperti memakan bangkai atau persembahan untuk selain Allah), sekaligus memberikan keringanan dalam keadaan darurat (misalnya kelaparan ekstrem), menegaskan bahwa rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya.
Selain itu, Al-Maidah menekankan pentingnya **tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa (kebajikan)**, serta larangan keras untuk bekerja sama dalam dosa dan permusuhan. Prinsip ini menjadi fondasi etika sosial dan komunitas dalam Islam, yang harus dijaga oleh orang-orang yang beriman.