Penjelasan Mendalam Surat Al-Isra Ayat 80 hingga 82

Ilustrasi Cahaya dan Ilmu Pengetahuan Gambar abstrak garis-garis yang memancar dari pusat, melambangkan ilmu, petunjuk, dan cahaya ilahi.

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah dan pelajaran hidup. Di antara ayat-ayat penting yang memberikan landasan moral dan spiritual yang kuat adalah rangkaian ayat 80 hingga 82. Ayat-ayat ini secara spesifik berbicara tentang pentingnya melaksanakan salat, memohon petunjuk, dan menegaskan kebenaran wahyu Al-Qur'an. Memahami konteks dan makna dari surat al isra ayat 80 82 sangat krusial bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Ayat 80: Perintah Menjaga Salat dan Permohonan Petunjuk

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
Wa qur Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin waj'al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā
"Dan katakanlah (wahai Muhammad), 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang benar (penolong).'"

Ayat 80 ini seringkali dipahami sebagai doa yang diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya terkait dengan hijrah dari Mekkah ke Madinah, meskipun cakupannya universal. Doa ini mengandung tiga permohonan utama. Pertama, "masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar", yakni memohon agar setiap langkah menuju suatu keadaan atau tempat (seperti awal perjuangan atau memulai suatu urusan) dilandasi kebenaran dan keberkahan. Kedua, "keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar", yakni memohon agar setiap akhir atau pelepasan dari suatu keadaan (seperti akhir dari perjuangan atau keluar dari suatu tempat) juga membawa kebaikan dan kemuliaan. Ketiga, permohonan akan "pertolongan yang benar" (sultanannashira), yaitu dukungan, kekuatan, dan otoritas yang datang langsung dari sisi Allah SWT, bukan dari hawa nafsu atau bantuan yang bersifat sementara.

Ayat 81: Kebenaran Al-Qur'an dan Kehancuran Kebatilan

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Wa qul jā'al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭil, innal-bāṭila kāna zahuqā
"Dan katakanlah, 'Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'"

Ayat 81 adalah deklarasi fundamental tentang superioritas wahyu Allah. Ketika Islam (Al-Haqq) datang, kebatilan (Al-Bathil) otomatis akan tersingkap dan menghilang. Ayat ini sering dikaitkan dengan peristiwa pembukaan kota Mekkah, di mana Nabi Muhammad SAW menghancurkan patung-patung di Ka'bah. Namun, makna yang lebih luas adalah bahwa tidak ada kekuatan kebatilan yang permanen. Kebenaran yang dibawa oleh Al-Qur'an dan ajaran Nabi pasti akan menang dan mengalahkan segala bentuk kesesatan, meskipun prosesnya mungkin membutuhkan waktu dan perjuangan. Penekanan pada frasa "Innal-bāṭila kāna zahuqā" (sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap) memberikan ketenangan dan optimisme bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan kezaliman.

Ayat 82: Al-Qur'an sebagai Penyembuh dan Rahmat

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Wa nunazzilu minal-qur'āni mā huwa shifā'un wa raḥmatul lil-mu'minīn, wa lā yazīduẓ-ẓālimīna illā khasārā
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur'an itu tidak menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim selain mereka sendiri."

Puncak dari pembahasan surat al isra ayat 80 82 terletak pada ayat 82. Ayat ini menegaskan fungsi ganda Al-Qur'an. Bagi kaum Mukminin, Al-Qur'an adalah syifa' (penyembuh), menyembuhkan penyakit fisik, penyakit hati, keraguan, dan kegelisahan spiritual. Ia juga merupakan rahmat (kasih sayang) yang membawa ketenangan dan petunjuk jalan lurus. Namun, bagi orang-orang yang zalim—yaitu mereka yang menolak kebenaran, mendustakan ayat-ayat Allah, dan berbuat aniaya—Al-Qur'an justru tidak menambah apapun kecuali khasāra (kerugian). Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah pedoman yang adil; ia memberi manfaat besar bagi yang mau menerima, dan memperlihatkan kegagalan bagi yang menolaknya.

Implikasi Spiritual dan Praktis

Rangkaian ayat ini menawarkan sebuah kerangka kerja spiritual. Pertama, kita harus selalu memohon bimbingan Allah dalam setiap awal dan akhir urusan (Ayat 80). Kedua, kita harus teguh dalam keyakinan bahwa kebenaran yang dibawa oleh risalah Islam akan selalu menang atas kebatilan (Ayat 81). Ketiga, sebagai orang beriman, kita harus menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber utama penyembuhan dan rahmat dalam hidup kita, menjadikannya kompas moral yang tak tergantikan. Jika kita menjauhinya, kerugianlah yang menanti, bukan keberkahan. Membaca dan merenungkan surat al isra ayat 80 82 secara rutin adalah cara ampuh untuk memurnikan niat dan memperkuat iman di tengah tantangan zaman.

🏠 Homepage