Surat Al-Maidah adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 120 ayat. Surat ini termasuk golongan surat Madaniyah, yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Nama "Al-Maidah" (Hidangan) diambil dari ayat 112 hingga 115, yang menceritakan permintaan kaum Hawariyyin (pengikut Nabi Isa AS) akan hidangan yang diturunkan dari langit.
Al-Maidah memiliki cakupan bahasan yang sangat luas, mencakup berbagai aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim, termasuk hukum-hukum syariat, janji dan perjanjian, kisah kenabian, serta etika sosial dan muamalah. Surat ini sering kali menjadi rujukan utama dalam penetapan beberapa hukum Islam.
Ilustrasi visualisasi pesan-pesan Al-Qur'an.
Beberapa Poin Penting dari Al-Maidah
1. Hukum dan Ketentuan (Ayat 1-5)
Ayat pembuka Al-Maidah menekankan pentingnya menepati janji dan akad, serta memberikan kejelasan mengenai hukum halal dan haram, termasuk penghalalan binatang ternak (kecuali yang dikecualikan) dan keharaman memakan bangkai, darah, serta daging babi.
2. Prinsip Keadilan dan Larangan Kebencian
Surat ini tegas mengajarkan bahwa kebencian terhadap suatu kaum (meskipun mereka pernah memusuhi) tidak boleh mendorong seorang Muslim untuk berlaku tidak adil. Keadilan harus ditegakkan di atas segalanya.
3. Kisah Hidangan (Al-Maidah)
Ayat 112 hingga 115 menceritakan kisah Nabi Isa AS yang dimintai mukjizat hidangan oleh Hawariyyin. Kisah ini menyoroti keimanan dan keyakinan total kepada Allah SWT, serta bagaimana Allah SWT menjawab doa para Nabi-Nya.
Tuntutan Konsistensi dalam Beragama
Secara keseluruhan, Surat Al-Maidah adalah sebuah kompendium hukum dan akhlak. Ia mengingatkan umat Islam untuk selalu menjaga integritas spiritual dan moral mereka. Penerapan syariat Islam yang komprehensif, mulai dari persoalan makanan hingga peradilan, digarisbawahi sebagai jalan menuju ketakwaan sejati. Pentingnya menunaikan janji, baik janji kepada Allah maupun sesama manusia, menjadi tema sentral yang berulang.
Memahami terjemahan dan konteks ayat-ayat dalam Al-Maidah membantu seorang Muslim dalam menjalani kehidupan yang seimbang—yaitu, menyeimbangkan antara pemenuhan hak-hak ilahiah (ibadah) dan tanggung jawab sosial (muamalah) dengan landasan keadilan yang kokoh.
Keindahan Al-Qur'an terletak pada kemampuannya memberikan panduan yang universal dan abadi. Surat Al-Maidah, dengan berbagai aturannya yang rinci, menjadi salah satu pilar dalam perumusan fikih Islam, menegaskan bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang adil dan bertanggung jawab.
Semoga memahami makna surat ini dapat meningkatkan kualitas iman dan amal kita sehari-hari.