Al-Qur'an, sebagai kitab suci umat Islam, memuat kisah lengkap berbagai nabi dan rasul yang diutus Allah SWT untuk membimbing umat manusia. Salah satu surat yang secara spesifik dan mendalam membahas perihal Bani Israil serta kedudukan Nabi Isa bin Maryam adalah Surat Al-Maidah. Surat kelima dalam susunan mushaf ini tidak hanya menegaskan kerasulan Isa, tetapi juga mengklarifikasi beberapa keyakinan yang berkembang di kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengenai dirinya.
Kedudukan Nabi Isa dalam perspektif Al-Maidah sangat jelas: ia adalah seorang utusan Allah (Rasulullah), seorang hamba yang mulia, dan pembawa Injil (Al-Masih). Surat Al-Maidah, khususnya ayat-ayat awal dan bagian tengah, berfungsi sebagai koreksi teologis terhadap penyimpangan pemahaman umat terdahulu mengenai misi suci beliau.
Penegasan Kerasulan dan Mukjizat Nabi Isa
Allah SWT mengingatkan kaum Muslimin akan karunia yang telah diberikan kepada Bani Israil, termasuk pengutusan Nabi Musa dan selanjutnya Nabi Isa. Dalam konteks ini, Allah menegaskan bahwa Isa diutus dengan membawa bukti-bukti nyata dan mukjizat yang luar biasa, sebagai penegasan atas kebenaran ajarannya.
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa mukjizat Nabi Isa, seperti menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit berat, semuanya terjadi atas izin dan kehendak mutlak Allah, bukan atas kekuatan pribadi Isa sendiri. Ini adalah poin krusial dalam teologi Islam—semua keajaiban adalah manifestasi dari kekuasaan Sang Pencipta.
Klarifikasi Tentang Status Ilahiyah
Salah satu fokus utama Surat Al-Maidah adalah meluruskan pandangan yang menganggap Isa sebagai bagian dari Tuhan atau bahkan sebagai Tuhan itu sendiri. Islam menghormati Isa Al-Masih sebagai 'Al-Masih' (yang diurapi) dan 'Ruhullah' (Roh dari Allah), namun menolak keras konsep penuhanan (ketuhanan) terhadapnya.
Surat ini secara tegas menyatakan bahwa Isa, meskipun dimuliakan, tetaplah seorang hamba Allah. Ia makan, minum, dan membutuhkan pertolongan Allah, sebagaimana manusia pada umumnya. Tuduhan bahwa Nabi Isa adalah Tuhan adalah sebuah kekeliruan besar yang harus diluruskan. Islam mengajarkan konsep Tawhid (keesaan Allah) yang mutlak, di mana tidak ada sekutu bagi-Nya.
Kisah Perjamuan (Al-Maidah) dan Permintaan Kaum Hawariyyin
Bagian paling terkenal yang terkait dengan nama surat ini, Al-Maidah (Hidangan), juga berhubungan erat dengan Nabi Isa dan pengikut setianya, kaum Hawariyyin. Dalam konteks kisah ini, para pengikut Nabi Isa memohon agar Allah menurunkan hidangan makanan dari langit sebagai bukti kebenaran dan penguatan iman mereka.
Permintaan ini dikabulkan oleh Allah SWT. Kisah ini menunjukkan kemurahan Allah kepada para pengikut yang tulus, sekaligus tantangan bagi Nabi Isa untuk menyampaikan janji Allah. Meskipun demikian, ayat yang menceritakan perjamuan ini juga mengandung peringatan keras, bahwa barangsiapa yang ingkar setelah menyaksikan bukti nyata tersebut, maka Allah akan menimpakan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada umat mana pun. Hal ini menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab iman setelah datangnya bukti yang jelas dan kasatmata.
Kesimpulan: Nabi Isa Sebagai Muslim dan Teladan
Surat Al-Maidah menegaskan bahwa Nabi Isa bin Maryam adalah seorang Muslim sejati—ia berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan mengajarkan Tauhid. Ia adalah seorang Nabi yang dihormati, diangkat derajatnya, dan merupakan pembawa kabar gembira sekaligus peringatan. Bagi umat Islam, memahami kisah Nabi Isa melalui lensa Al-Maidah memperkuat keyakinan akan kesinambungan risalah para nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, semuanya membawa pesan inti yang sama: pengabdian total hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Surat ini menjadi landasan penting dalam dialog antaragama, memberikan batasan-batasan teologis yang jelas mengenai esensi kenabian Isa Al-Masih.