يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَن يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dilimpahkan) kepada kalian, ketika suatu kaum bermaksud hendak menumpahkan tangannya (berbuat jahat) kepada kalian, lalu Allah menahan tangan mereka dari kalian. Dan bertakwalah kepada Allah; dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman patut berserah diri.
Ayat kesembilan dari Surat Al-Maidah ini merupakan pengingat penting bagi umat Islam tentang hakikat iman dan konsekuensinya. Allah SWT memulai ayat ini dengan panggilan mulia: "Hai orang-orang yang beriman..." Ini menegaskan bahwa pesan yang disampaikan mengandung nilai fundamental bagi mereka yang telah menyatakan keimanannya.
Inti pertama dari ayat ini adalah perintah untuk senantiasa mengingat nikmat Allah. Nikmat yang dimaksud di sini adalah nikmat perlindungan spesifik, yakni ketika suatu kelompok kaum (dalam konteks sejarah, sering diartikan merujuk pada kaum Quraisy atau musuh-musuh Islam pada masa awal) berupaya keras untuk mencelakai atau menumpahkan tangan permusuhan mereka kepada kaum Muslimin. Namun, atas kehendak dan kuasa Allah, rencana jahat tersebut digagalkan dan tangan mereka ditahan.
Kisah ini mengajarkan bahwa di tengah ancaman nyata—baik secara fisik, ideologis, maupun sosial—kekuatan terbesar yang melindungi mukmin bukanlah strategi manusia semata, melainkan pertolongan langsung dari Sang Pencipta. Mengingat hal ini menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati, dan keyakinan bahwa Allah adalah Pelindung sejati.
Setelah mengingatkan akan pertolongan-Nya, Allah melanjutkan dengan dua perintah krusial yang menjadi pilar kehidupan seorang mukmin: Takwa dan Tawakal.
Perintah "Dan bertakwalah kepada Allah" adalah perintah abadi. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks ayat ini, takwa berarti bersyukur atas perlindungan yang diterima dengan cara tidak berbuat maksiat dan senantiasa berada dalam ketaatan, meskipun musuh telah dilumpuhkan. Takwa adalah bentuk respon paling logis atas rahmat yang telah ditunjukkan.
Puncak dari ayat ini adalah penegasan bahwa "hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman patut berserah diri." Tawakal bukan berarti pasif menunggu hasil, melainkan melakukan usaha terbaik (ikhtiar) dan kemudian menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada ketetapan Allah. Ketika seorang mukmin telah bertakwa dan berikhtiar maksimal, maka ketenangan batin diperoleh melalui penyerahan diri total kepada kehendak-Nya. Ini adalah jaminan ketenangan psikologis di tengah badai kehidupan.
Meskipun ayat ini memiliki konteks sejarah, relevansinya kekal. Umat Islam saat ini menghadapi berbagai tantangan—mulai dari fitnah, perpecahan, hingga godaan duniawi. Surat Al-Maidah ayat 9 mengingatkan kita bahwa selama pondasi iman kokoh (diwujudkan dalam takwa dan tawakal), maka rencana buruk apa pun yang ditujukan kepada komunitas iman akan dipatahkan oleh kekuatan ilahi.
Menghayati ayat ini mendorong mukmin untuk tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, setiap kesulitan adalah kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Allah, membuktikan keimanan, dan mempertebal keyakinan bahwa janji pertolongan-Nya adalah mutlak bagi mereka yang teguh memegang prinsip keimanan dan ketakwaan.
Semoga renungan ini meningkatkan keimanan dan menguatkan tawakal kita.