Kisah Kegoncangan Besar: Surat Al-Zalzalah Ayat 1-6

Visualisasi sederhana dari bumi yang bergetar atau terjadi goncangan besar. Goncangan

Ilustrasi visualisasi kegoncangan hari kiamat.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Zalzalah Ayat 1-6

Surat Al-Zalzalah (Kegoncangan), surat ke-99 dalam Al-Qur'an, memiliki pesan yang sangat kuat mengenai Hari Kiamat. Ayat 1 hingga 6 secara spesifik menggambarkan dahsyatnya goncangan yang akan melanda bumi saat peristiwa besar itu terjadi.

Berikut adalah teks Arab beserta terjemahannya:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1)
Apabila bumi diguncangkan dengan goncangan hebatnya, (1)
وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)
dan bumi mengeluarkan isi berat yang dikandungnya, (2)
وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3)
dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?" (3)
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4)
Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, (4)
بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا (5)
karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya. (5)
يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka. (6)

Merangkai Kisah Kegoncangan Dahsyat

Ayat-ayat pembuka Surat Al-Zalzalah ini menyajikan narasi yang bergerak cepat dari fenomena alam yang luar biasa menuju pertanggungjawaban manusia. Penggambaran dimulai dengan kata "Idza" (Apabila), yang menandakan sebuah kondisi atau permulaan suatu peristiwa besar.

Goncangan yang Melampaui Batas (Ayat 1)

Ayat pertama menegaskan bahwa bumi akan mengalami guncangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, "zilzalaha." Ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan guncangan total yang menandai akhir dari tatanan dunia yang kita kenal. Skala dahsyatnya diperkuat dengan adanya kata ganti kepemilikan yang merujuk kepada kegoncangan yang khas milik bumi itu sendiri.

Bumi Memuntahkan Isi Rahasianya (Ayat 2)

Selanjutnya, bumi akan mengeluarkan segala isinya yang terpendam, "athqalaha" (berat-beratnya). Ini bisa diartikan sebagai keluarnya semua harta karun, mayat-mayat dari kubur, dan segala rahasia yang selama ini tersembunyi di kedalaman. Kontras antara ketenangan bumi saat ini dengan keadaan memuntahkan isinya menunjukkan kengerian yang luar biasa.

Reaksi Manusia yang Bingung (Ayat 3)

Dalam kekacauan itu, manusia—yang pada umumnya lalai dalam kehidupan dunia—akan terbangun dari kelalaiannya dan kebingungan melanda. Pertanyaan retoris, "Apa yang terjadi pada bumi ini?" menunjukkan betapa tak terduganya peristiwa tersebut bagi mereka. Mereka menyadari bahwa kehidupan normal telah berakhir.

Bumi Menjadi Saksi Bisu (Ayat 4 & 5)

Keunikan ayat 4 dan 5 adalah bahwa bumi, yang selama ini menjadi panggung perbuatan manusia, akan 'berbicara' dan menyampaikan semua berita atau catatan amal perbuatan yang terjadi di permukaannya. Ini terjadi atas izin dan perintah langsung dari Allah SWT ("Bi anna Rabbaka awha laha"). Bumi menjadi saksi paling jujur, tidak bisa berdusta, mencatat setiap langkah, perbuatan baik, maupun keburukan yang dilakukan oleh penghuninya.

Pemilahan dan Pertanggungjawaban (Ayat 6)

Puncak dari adegan ini adalah keluarnya manusia dari kubur dalam keadaan "asyataat" (berkelompok-kelompok atau terpisah-pisah). Mereka tidak lagi berkelompok berdasarkan suku, bangsa, atau kekayaan duniawi, melainkan terpisah sesuai dengan amal perbuatan mereka. Tujuan utama keluarnya mereka adalah untuk melihat dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang pernah mereka lakukan. Ayat ini menjadi peringatan tegas bahwa tidak ada perbuatan sekecil apapun yang luput dari pencatatan Allah.

Secara keseluruhan, enam ayat pertama Surat Al-Zalzalah ini berfungsi sebagai pengingat fundamental akan adanya hari perhitungan. Kegoncangan bumi hanyalah pendahuluan; inti dari peristiwa tersebut adalah pertanggungjawaban mutlak setiap individu di hadapan Sang Pencipta.

🏠 Homepage