Surat Al-Zalzalah, yang berarti "Kegoncangan", adalah surat ke-99 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Meskipun pendek, surat ini memuat peringatan yang sangat dahsyat mengenai peristiwa hari kiamat, hari perhitungan amal, dan pertanggungjawaban mutlak atas setiap perbuatan, sekecil apapun.
Fokus utama dari empat ayat pertama surat ini adalah penggambaran visual dan auditori tentang guncangan hebat yang akan melanda bumi saat kiamat tiba. Guncangan ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang menandai berakhirnya kehidupan duniawi dan dimulainya kehidupan akhirat.
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا
1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
2. Dan bumi telah mengeluarkan isi beratnya,وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا
3. Dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?"يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا
4. Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya,Ayat pertama, "Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa," memberikan gambaran awal yang sangat dramatis. Kata "zilzaalahaa" (guncangan yang dahsyat) menekankan intensitas peristiwa tersebut. Ini adalah guncangan yang melampaui batas pemahaman manusia mengenai gempa bumi. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ini adalah guncangan terakhir yang akan meratakan semua bangunan dan struktur yang pernah didirikan manusia.
Ayat kedua, "Wa akhrajatil ardhu itsqoolahaa," menggambarkan konsekuensi dari guncangan tersebut. Bumi akan memuntahkan segala sesuatu yang tersimpan di perutnya—harta karun, mayat-mayat orang terdahulu, dan segala sesuatu yang pernah ditimbun di dalamnya. Ini adalah simbol bahwa tidak ada rahasia yang bisa tersembunyi dari penglihatan Allah SWT, bahkan di kedalaman bumi sekalipun.
Ketika kehancuran ini terjadi, reaksi manusia digambarkan dalam ayat ketiga, "Wa qaalal insaanu maa lahaa." Manusia yang menyaksikan kengerian ini hanya mampu bertanya dalam kebingungan dan ketakutan yang luar biasa: "Ada apa ini?" Kebingungan ini muncul karena skala bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan bagi mereka yang hidupnya dipenuhi kemewahan dan kekuasaan.
Ayat keempat adalah puncak dari adegan dramatis tersebut: "Yauma idzin tuhadditsu akhbaarohaa." Pada hari itu, bumi sendiri yang akan berbicara. Bumi akan menjadi saksi bisu yang kini diizinkan berbicara oleh Allah SWT untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi di atas permukaannya. Ini adalah pengadilan yang tidak bisa diinterogasi atau dibohongi. Setiap injakan, setiap perbuatan baik maupun buruk, setiap pengkhianatan, akan diungkapkan bumi secara gamblang.
Peringatan keras dalam empat ayat pertama Al-Zalzalah ini memiliki implikasi teologis yang mendalam. Pertama, ia menegaskan keesaan dan kekuasaan Allah SWT yang mutlak atas alam semesta, mampu menghancurkan tatanan alam yang kita kenal kapan saja Dia kehendaki. Kedua, ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan akan konsep pertanggungjawaban amal (yaumul hisab).
Jika bumi, yang selama ini diam dan menopang kita, akan menjadi saksi utama kita, maka tidak ada satu pun perbuatan yang terlewat. Ayat-ayat selanjutnya dalam surat ini akan menjelaskan bahwa sekecil apa pun amalan, baik atau buruk, akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, penghayatan terhadap ayat 1-4 ini seharusnya memotivasi setiap Muslim untuk senantiasa berbuat baik, berhati-hati dalam setiap langkah, dan tidak pernah meremehkan dosa kecil, karena semua akan terungkap saat guncangan itu tiba dan bumi mulai bersaksi.