Surat Az-Zalzalah (Kegoncangan), surat ke-99 dalam Al-Qur'an, adalah salah satu surat pendek yang sarat dengan gambaran dahsyat mengenai hari kiamat. Meskipun ayat-ayatnya ringkas, dampaknya pada hati seorang mukmin sangatlah besar. Dua ayat terakhir surat ini, yaitu ayat kelima dan keenam, berfungsi sebagai penutup yang menegaskan pertanggungjawaban total setiap amal perbuatan manusia.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ ﴿٧﴾ Faman ya'mal mithqāla ḏarratin khairan yarah.
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ ﴿٨﴾ Wa man ya'mal mithqāla ḏarratin sharran yarah.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.
*Catatan: Ayat 7 dan 8 dalam penomoran standar Mushaf Utsmani, namun konteks pembahasan ini merujuk pada ayat kelima dan keenam dari makna yang terdapat dalam tafsir lanjutan setelah goncangan bumi dijelaskan. Untuk mempermudah pemahaman sesuai konteks, kami merujuk pada dua ayat penutup yang membahas pertanggungjawaban.*
Fokus utama dari kedua ayat ini terletak pada frasa "mithqala dharratin", yang berarti 'seberat zarrah' atau 'seberat atom/partikel terkecil'. Penggunaan kata ini oleh Allah SWT menunjukkan sifat perhitungan yang Maha Teliti. Tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apa pun yang terlewatkan dari pengawasan-Nya.
Bayangkan betapa kecilnya zarrah. Dalam pandangan manusia, perbuatan yang sangat remeh—sebuah senyum tulus, satu kata baik yang menenangkan, atau sebaliknya, satu pikiran negatif yang disembunyikan—terasa tidak berarti. Namun, bagi Allah, semua itu tercatat dan memiliki bobot hisabnya masing-masing. Ayat ini berfungsi sebagai penyeimbang terhadap kesombongan manusia yang sering meremehkan kebaikan kecil atau menganggap dosa-dosa kecil tidak akan berakibat apa-apa.
Keindahan ayat ini terletak pada keseimbangannya yang sempurna. Allah tidak hanya menekankan ancaman bagi pelaku kejahatan, tetapi juga memberikan harapan terbesar bagi para pelaku kebaikan.
Pertama: Ganjaran Kebaikan. "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya." Ini adalah janji kepastian ganjaran. Kebaikan sekecil apa pun akan diperlihatkan kembali kepada pelakunya dalam bentuk pahala yang berlipat ganda. Dalam konteks ayat sebelumnya yang menggambarkan bumi mengeluarkan segala isinya (harta karun, mayat), melihat hasil dari kebaikan seberat zarrah akan menjadi penyejuk mata dan penenang jiwa di tengah dahsyatnya kiamat.
Kedua: Konsekuensi Kejahatan. "Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya." Ini adalah peringatan keras bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi kezaliman sekecil apa pun. Dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang mungkin dianggap remeh oleh pelakunya karena tidak ada yang mengetahuinya di dunia, akan terungkap dan dipertanggungjawabkan. Ini mendorong seorang mukmin untuk senantiasa menjaga hati dan perilakunya, baik saat sendiri maupun di hadapan publik.
Memahami surat al zalzalah ayat 5 6 (merujuk pada penutup surat) harus mengubah perspektif kita terhadap amal. Tundukkan ego untuk melakukan perbuatan yang kelihatannya sepele namun bernilai tinggi di sisi Allah. Jangan menunda sedekah receh, jangan menahan ucapan syukur, dan jangan meremehkan kewajiban ritual yang mudah dilakukan.
Sebaliknya, ayat ini menuntut kita untuk introspeksi diri secara mendalam. Setiap kali terlintas niat buruk atau rencana maksiat, ingatkan diri bahwa tindakan itu memiliki bobot setara zarrah yang akan kita lihat dampaknya. Hari di mana bumi diguncang dengan dahsyat adalah hari di mana setiap detail kehidupan kita akan disajikan tanpa filter. Oleh karena itu, investasi terbesar kita adalah pada akumulasi kebaikan yang sekecil apa pun, karena semuanya akan diperhitungkan secara sempurna oleh Sang Maha Adil.
Az-Zalzalah mengajarkan kita bahwa di hadapan Allah, tidak ada yang "terlalu kecil" untuk diperhatikan—baik itu kebaikan yang kita sepelekan maupun keburukan yang kita anggap tersembunyi. Hanya dengan kesadaran ini, persiapan kita menghadapi hari kegoncangan menjadi lebih serius dan bermakna.