Surat Az-Zalzalah, atau Kegoncangan, adalah surat pendek dalam Al-Qur'an yang memiliki pesan mendalam tentang peristiwa dahsyat di akhir zaman dan pertanggungjawaban amal perbuatan manusia. Khususnya pada ayat 5 hingga 8, kita diperingatkan mengenai skala perhitungan yang sangat teliti oleh Allah SWT.
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat keras bahwa tidak ada perbuatan sekecil apapun—baik atau buruk—yang luput dari catatan dan pertimbangan ilahi saat hari penghisaban tiba.
Terjemahan Ayat 7
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.
Terjemahan Ayat 8
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.
Perhitungan Sekecil Apapun (Dzarrah)
Kata kunci utama dalam ayat-ayat ini adalah "mitsqala dzarrah" (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ), yang berarti seberat atom atau seberat biji sawi/debu yang sangat halus. Konsep ini menegaskan prinsip keadilan mutlak Allah. Dalam kehidupan duniawi, seringkali kita meremehkan perbuatan kecil, misalnya, menganggap dusta kecil itu tidak berbahaya, atau sedekah receh itu tidak berarti.
Namun, Al-Zalzalah 7-8 membalik perspektif tersebut. Setiap tindakan, baik yang dilakukan secara diam-diam maupun terang-terangan, akan diperhitungkan dengan timbangan yang sangat presisi. Ayat ini menuntut adanya kesadaran diri (introspeksi) yang tinggi bagi setiap Muslim. Jika kebaikan sekecil apapun akan dibalas dengan balasan yang setimpal, maka ini seharusnya menjadi motivasi terbesar untuk terus berbuat baik tanpa henti.
Implikasi Psikologis dan Spiritual
Memahami ayat ini memberikan dampak signifikan pada perilaku sehari-hari. Pertama, ia menghilangkan rasa sia-sia dari usaha kebaikan kita. Tidak ada sedekah yang terlalu kecil di hadapan Allah. Bahkan senyuman tulus atau menyingkirkan duri dari jalan, jika diniatkan karena Allah, akan tercatat sebagai amal shaleh. Ini mendorong kontinuitas dalam ibadah sunnah dan akhlak mulia.
Kedua, ayat ini menjadi rem moral terhadap perbuatan maksiat. Ketika seseorang berniat melakukan kejahatan, ia harus mengingat bahwa dampaknya tidak akan hilang tanpa jejak. Walaupun mungkin lolos dari hukum duniawi atau pandangan manusia, ia tidak akan pernah lolos dari pandangan dan perhitungan Allah. Ayat 8 berfungsi sebagai ancaman yang menahan diri dari perbuatan buruk, sekecil apapun celaan tersebut.
Para mufassir menjelaskan bahwa ketika bumi diguncang hebat pada hari kiamat (sesuai ayat 1-4), guncangan itu hanyalah pembuka jalan menuju penghisaban yang lebih rinci. Setelah struktur dunia hancur, fokus beralih sepenuhnya pada akuntabilitas individu. Timbangan (mizan) yang disiapkan akan sangat sensitif, mampu menimbang partikel terkecil.
Keseimbangan antara Harap dan Takut (Raja’ dan Khauf)
Surat Az-Zalzalah ayat 5 sampai 8 adalah representasi sempurna dari prinsip Raja’ (harapan) dan Khauf (rasa takut) dalam Islam. Kita harus memiliki harapan besar bahwa amal kebaikan kita yang tampaknya remeh akan mendapatkan balasan surgawi, yang mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Di sisi lain, kita harus menanamkan rasa takut yang sehat (takwa) akan perhitungan bagi kesalahan sekecil apa pun, yang menjaga kita dari godaan dosa.
Pada akhirnya, ketika semua rahasia bumi telah ditampakkan, manusia akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri hasil jerih payahnya selama hidup di dunia. Tidak ada lagi ruang untuk berkelit, tidak ada lagi pembelaan yang bisa mengubah fakta. Kesadaran ini harus mendorong kita untuk memanfaatkan setiap detik waktu yang tersisa untuk memperbaiki diri, karena pertanggungjawaban final sedang menunggu, seadil-adilnya.