Ilustrasi: Penggambaran Guncangan Hari Kiamat.
Dalam studi keilmuan Al-Qur'an, khususnya ilmu asbabul nuzul (sebab turunnya ayat), terdapat pembahasan menarik mengenai kronologi turunnya setiap surat. Salah satu surat yang sering menjadi perbincangan adalah Surat Az-Zalzalah (Surat ke-99), yang memiliki nama lain seperti "Idza Zulzilat" berdasarkan ayat pertamanya. Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: surat Al-Zalzalah diturunkan setelah surat apa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merujuk pada klasifikasi surat berdasarkan waktu pewahyuan, yaitu Makkiyah (turun di Mekkah sebelum Hijrah) atau Madaniyah (turun di Madinah setelah Hijrah). Surat Az-Zalzalah secara umum diklasifikasikan sebagai surat **Madaniyah**. Mayoritas ulama tafsir menempatkannya sebagai surat yang turun belakangan dibandingkan dengan surat-surat Makkiyah yang pendek maupun yang panjang.
Surat-surat Madaniyah cenderung membahas persoalan hukum, tata kelola masyarakat Muslim, peperangan, dan penjelasan rinci mengenai hari akhir. Surat Az-Zalzalah (99) sangat jelas membicarakan tentang guncangan hebat yang terjadi pada hari kiamat, di mana bumi akan mengeluarkan segala isinya dan setiap jiwa akan menerima perhitungan amal perbuatannya.
Menurut beberapa riwayat dan penelitian komparatif terhadap mushaf standar yang disusun berdasarkan urutan turunnya (terlepas dari urutan resmi mushaf Utsmani), Surat Az-Zalzalah berada pada urutan pewahyuan yang relatif akhir. Meskipun terdapat perbedaan pendapat minor di antara para ahli, konsensus umum menunjukkan bahwa Az-Zalzalah turun setelah periode intensif pembentukan komunitas Islam di Madinah, periode di mana hukum-hukum syariat telah mulai mengkristal.
Jika kita merujuk pada urutan wahyu yang disusun oleh ulama seperti Syaikhul Muhadditsin, Rasyid Rida, atau yang didasarkan pada penelitian yang berusaha merekonstruksi kronologi pewahyuan, Az-Zalzalah sering ditempatkan setelah banyak surat Madaniyah lainnya yang membahas urusan sosial dan politik. Sebagai contoh, ia diturunkan setelah surat-surat penting seperti Al-Baqarah, Ali 'Imran, An-Nisa, Al-Ma'idah, dan surat-surat panjang lainnya yang membentuk fondasi hukum Islam.
Secara spesifik, dalam beberapa catatan mengenai urutan pewahyuan (bukan urutan dalam mushaf), Az-Zalzalah diperkirakan turun setelah surat-surat yang membahas peperangan atau keputusan penting pasca-Hijrah, seperti Surat An-Nur atau bahkan lebih mendekati surat-surat penutup periode Madinah. Hal ini masuk akal karena tema yang diangkatnya adalah peringatan eskatologis yang bersifat universal dan final, seringkali menjadi penekanan di akhir masa pembinaan umat.
Penting untuk dipahami bahwa fokus utama dalam ilmu Al-Qur'an adalah isi dan kebenaran ajarannya, bukan sekadar urutan turunnya. Surat Al-Zalzalah memiliki kandungan yang sangat padat meskipun hanya terdiri dari delapan ayat. Ayat pertama menegaskan kedahsyatan hari kiamat: "Idza zulzilatil ardu zilzalaha" (Apabila bumi diguncang dengan guncangan yang dahsyat).
Guncangan ini bukan hanya guncangan fisik, melainkan penanda dimulainya pertanggungjawaban universal. Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa bumi akan mengeluarkan segala isinya, yang ditafsirkan sebagai mayat-mayat yang bangkit, atau harta karun yang tersembunyi. Puncaknya adalah pada ayat 7 dan 8, yang mengingatkan manusia: "Faman ya'mal mitqala dzarratin khairan yarah, waman ya'mal mitqala dzarratin syarran yarah." (Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya; dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya).
Mengetahui bahwa surat Al-Zalzalah diturunkan setelah banyak surat lain yang membangun struktur hukum Islam memberikan perspektif bahwa peringatan akhirat ini berfungsi sebagai penguat dan penyempurna. Setelah norma-norma sosial dan ritual keagamaan ditetapkan melalui surat-surat sebelumnya, Az-Zalzalah hadir untuk mengingatkan bahwa seluruh tindakan, sekecil apapun, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Jadi, meskipun tidak ada satu pun sumber tunggal yang mutlak menetapkan "Surat X adalah surat tepat sebelum Al-Zalzalah", secara umum diakui bahwa Az-Zalzalah adalah salah satu surat Madaniyah yang turun belakangan, melanjutkan pesan-pesan kenabian yang semakin mematangkan umat Islam dalam persiapan menuju Yaumul Hisab. Pemahaman ini membantu kita mengapresiasi bagaimana Al-Qur'an diturunkan secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan dakwah dan umat pada setiap fase perjuangan Rasulullah SAW.
Kesimpulannya, jika mencari posisi kronologisnya, surat Al-Zalzalah berada dalam kelompok surat-surat yang diwahyukan di Madinah, yang turun setelah periode awal pembentukan syariat dan norma-norma ibadah yang dijelaskan dalam surat-surat Madaniyah yang lebih awal. Ia menegaskan kembali prinsip dasar keadilan ilahi setelah umat telah banyak menerima panduan hidup.