Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", merupakan salah satu surat terakhir yang diturunkan di Madinah. Surat ini kaya akan pembahasan hukum-hukum syariat, perjanjian, dan kisah-kisah penting yang menjadi landasan bagi umat Islam dalam berinteraksi sosial dan spiritual. Di antara ayat-ayat penting tersebut, terdapat satu rangkaian dialog yang sangat krusial mengenai peran Nabi Isa Al-Masih dan mukjizat yang diberikan Allah SWT, yang terangkum dalam ayat 110 hingga 115. Fokus utama pembahasan kita adalah Surat Al-Ma'idah ayat 111.
Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah penegasan akan kebenaran wahyu dan inti dari risalah kenabian. Ayat 111 secara spesifik mengungkapkan dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'alaihissalam pada Hari Kiamat, yang berfungsi sebagai penutup argumen ilahi terhadap klaim-klaim yang menyimpang mengenai status beliau.
Ayat ini adalah klimaks dari dialog profetik. Allah SWT memerintahkan Nabi Isa untuk mengingat kembali seluruh nikmat agung yang telah dilimpahkan kepadanya sejak masa kanak-kanak hingga kedewasaan. Perintah "Ingatlah nikmat-Ku" (Uzkur ni’mati) mengandung makna penegasan kebenaran risalahnya di hadapan manusia, khususnya di hadapan mereka yang menuduhnya secara keliru.
Nikmat pertama yang ditekankan adalah penguatan melalui Ruhul Qudus (Roh Kudus). Dalam konteks Islam, Ruhul Qudus merujuk pada Malaikat Jibril AS yang bertugas menyampaikan wahyu. Penguatan ini memungkinkan Nabi Isa untuk berbicara dan menyampaikan kebenaran secara fasih, baik saat ia masih bayi (membela kesucian ibunya, Maryam) maupun saat ia telah menjadi rasul dewasa. Ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara dan berdakwahnya adalah karunia murni dari Allah, bukan kemampuan alami manusia biasa.
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Isa dianugerahi tiga pilar ilmu utama: Al-Kitab (wahyu), Al-Hikmah (pemahaman mendalam terhadap wahyu), dan kitab-kitab terdahulu seperti Taurat dan Injil. Ini adalah keistimewaan yang disematkan padanya sebagai seorang rasul yang diutus khusus untuk Bani Israil.
Poin sentral dalam ayat ini adalah penyebutan mukjizat-mukjizat luar biasa yang diberikan kepada Nabi Isa, yang semuanya dilandasi oleh frasa kunci: "dengan izin-Ku" (bi idzni).
Allah mengingatkan bagaimana Dia melindungi Nabi Isa ketika beliau datang membawa bukti-bukti nyata (bayyinah). Meskipun mukjizat itu jelas, penolakan muncul dari kaum kafir Bani Israil yang malah menuduh mukjizat tersebut sebagai "sihir yang nyata". Tuduhan ini adalah puncak pembangkangan mereka, di mana mereka menutup mata terhadap keajaiban yang jelas berasal dari Ilahi dan melabelinya dengan sihir.
Pengulangan pengingatan ini terjadi di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Ini adalah sesi pertanggungjawaban di mana setiap rasul akan bersaksi atas risalahnya, dan setiap umat akan diminta pengakuan terhadap apa yang mereka terima. Bagi Nabi Isa, pengingatan ini menjadi pembelaan definitif terhadap klaim-klaim yang kemudian berkembang setelah beliau diangkat ke langit, terutama klaim ketuhanan atau persekutuan dengan Tuhan. Dengan mengingatkan semua nikmat dan ketergantungan penuhnya kepada Allah ("dengan izin-Ku"), Nabi Isa menegaskan kembali posisinya sebagai hamba yang taat, sekaligus meluruskan pandangan umat manusia terhadap dirinya.
Surat Al-Ma'idah ayat 111 merupakan pelajaran penting bagi umat Islam mengenai hakikat kebenaran wahyu, batas kekuasaan seorang rasul, dan pentingnya mengingat karunia Allah dalam setiap tahapan kehidupan, terutama saat menghadapi tuduhan atau penolakan atas risalah yang dibawa.