Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah surat ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Salah satu ayat yang paling mendalam maknanya, dan sering menjadi rujukan penting mengenai isu keadilan, pembunuhan, dan hukum ilahi adalah ayat ke-31. Ayat ini mengisahkan peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi, yaitu antara dua putra Nabi Adam AS, Habil dan Qabil.
Teks dan Terjemah Surat Al-Ma'idah Ayat 31
فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِى ٱلْأَرْضِ لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوَارِى سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَٰوَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا ٱلْغُرَابِ فَأُوَارِىَ سَوْءَةَ أَخِى فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلنَّـٰدِمِينَ
Maka Allah mengutus seekor burung gagak (wala) menggali-gali di bumi, untuk menunjukkan kepadanya (Qabil) bagaimana cara menguburkan mayit saudaranya. Berkata (Qabil), "Celakalah aku! Apakah aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku?" Maka jadilah ia seorang yang menyesal.
Konteks Kisah Habil dan Qabil
Sebelum ayat 31 ini, Allah SWT telah menjelaskan bahwa Habil dan Qabil diperintahkan untuk mempersembahkan kurban. Kurban Habil diterima karena ketulusan dan keikhlasan hatinya. Sementara kurban Qabil ditolak karena didasari kecemburuan dan niat yang buruk. Penolakan inilah yang memicu rasa dengki Qabil, yang berujung pada niat jahat untuk membunuh saudaranya.
Ayat 31 ini adalah titik balik emosional dan moral dalam kisah tersebut. Setelah berhasil melaksanakan niatnya yang keji, Qabil dihadapkan pada kekosongan dan kebingungan. Ia membunuh saudaranya namun tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap jasad yang tak bernyawa itu. Kejahatan pertama telah dilakukan, meninggalkan konsekuensi yang ia tak sanggup hadapi sendiri.
Pelajaran dari Pengutusan Burung Gagak
Di tengah kebingungan Qabil, Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya yang universal—kasih sayang yang mencakup bahkan seorang pembunuh. Allah mengirimkan seekor burung gagak (dalam riwayat lain disebutkan dua gagak, salah satunya membunuh yang lain, lalu menguburkannya). Burung gagak ini melakukan tindakan yang sangat mendasar dan naluriah: menggali tanah dan menguburkan bangkai saudaranya.
Tindakan sederhana ini memberikan pencerahan besar bagi Qabil. Ia menyadari kebodohannya. Ia, sebagai manusia yang dianugerahi akal oleh Allah, justru tidak mampu melakukan hal yang bisa dilakukan oleh seekor burung. Frasa "Celakalah aku!" (يَا وَيْلَتَا) menunjukkan penyesalan yang mendalam, bukan sekadar karena takut tertangkap, melainkan penyesalan moral karena telah melanggar batas fitrah kemanusiaan.
Ayat ini memberikan landasan kuat bagi hukum penguburan jenazah dalam Islam. Sebelum kisah ini, manusia belum mengenal cara memakamkan mayit. Kisah Habil dan Qabil menegaskan bahwa penghormatan terakhir terhadap jasad manusia, melalui penguburan, adalah ajaran ilahi yang bersifat primordial dan mendasar bagi peradaban.
Konsekuensi Penyesalan dan Kehinaan Qabil
Penyesalan Qabil sangat kontras dengan kesombongan dan kebenciannya sebelumnya. Ia sadar bahwa kejahatan yang dilakukannya telah menjatuhkannya ke tingkat yang lebih rendah daripada seekor burung. Ini adalah pelajaran tentang kehinaan akibat perbuatan dosa besar. Ia menjadi "orang yang menyesal" (مِنَ النَّادِمِينَ), sebuah label abadi yang menandakan betapa beratnya beban psikologis dan spiritual akibat pembunuhan pertama.
Surat Al-Ma'idah ayat 31 mengajarkan kita bahwa nilai kehidupan sangat tinggi. Pembunuhan, bahkan dalam konteks persaudaraan yang didasari iri hati, adalah pelanggaran berat terhadap tatanan ilahi. Di sisi lain, ayat ini juga menyoroti rahmat Allah yang tetap memberikan petunjuk, bahkan kepada pelaku kezaliman, sebagai kesempatan terakhir untuk belajar tentang adab dan etika dasar kemanusiaan.
Memahami ayat ini membawa kita pada refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan antar sesama, menjauhi iri dengki, dan menghargai kehidupan sebagaimana yang diajarkan sejak permulaan sejarah umat manusia.
Implikasi Etika dan Moral
Kisah ini bukan hanya catatan sejarah, melainkan prinsip etika abadi. Ia menekankan bahwa perbuatan buruk akan meninggalkan bekas penyesalan yang dalam, dan bahkan alam non-manusia (dalam hal ini, burung gagak) bisa menjadi guru bagi manusia yang lalai. Kehilangan nyawa adalah kerugian mutlak, dan cara kita memperlakukan jenazah adalah cerminan dari sejauh mana kita menghargai kehidupan itu sendiri.
Dalam konteks yang lebih luas, ayat 31 dari Al-Ma'idah menjadi dasar bagaimana masyarakat seharusnya memperlakukan orang yang meninggal, menegaskan bahwa penguburan adalah bagian dari ritual sosial dan spiritual yang diatur oleh wahyu ilahi untuk memelihara martabat kemanusiaan.