Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran penting mengenai sejarah kenabian, moralitas, dan konsekuensi dari perbuatan manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan karena mengandung peringatan keras terhadap penindasan dan kezaliman adalah Surat Isra Ayat 17. Ayat ini menjadi landasan utama dalam etika sosial Islam mengenai bagaimana masyarakat seharusnya memperlakukan kaum yang lemah dan bagaimana pemimpin seharusnya menjalankan kekuasaan.
Teks dan Terjemahan Surat Isra Ayat 17
Pesan Utama Tentang Kehancuran dan Pengawasan Ilahi
Meskipun ayat 17 secara harfiah membahas tentang kaum-kaum terdahulu yang telah dimusnahkan, konteksnya dalam Surat Al-Isra (yang membahas tentang teguran kepada Bani Israil) sangat relevan. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat universal: sejarah manusia dipenuhi dengan siklus kehancuran bagi mereka yang melampaui batas moral dan keadilan.
Peringatan ini ditujukan kepada setiap generasi dan komunitas. Allah SWT mengingatkan bahwa kehancuran bukan terjadi tanpa sebab. Biasanya, kehancuran tersebut didahului oleh kemaksiatan, kesombongan, penindasan terhadap kaum lemah, dan pengabaian terhadap perintah-Nya. Ayat ini secara implisit menghubungkan perilaku kolektif dengan takdir ilahi. Jika sebuah umat memilih jalur kezaliman dan melupakan ajaran kebenaran, maka takdir mereka adalah mengikuti jejak umat-umat terdahulu yang telah dihancurkan.
Kekuasaan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat
Bagian kedua dari Surat Isra Ayat 17, "Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya," adalah inti dari jaminan pengawasan ilahi. Ini menegaskan bahwa meskipun manusia mungkin berhasil menyembunyikan kejahatan mereka dari pengawasan manusiawi—entah itu penguasa zalim, sistem yang korup, atau mata tetangga—tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari Allah SWT.
Sifat Al-‘Alim (Maha Mengetahui) berarti Allah mengetahui segala niat tersembunyi, bisikan hati, dan perencanaan rahasia. Sementara sifat Al-Basir (Maha Melihat) menegaskan bahwa Dia menyaksikan setiap tindakan, sekecil apa pun, yang dilakukan oleh hamba-Nya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kombinasi kedua sifat ini memberikan rasa aman bagi orang yang berbuat baik (karena kebaikannya pasti diperhitungkan) dan menimbulkan rasa takut (wara') bagi mereka yang berniat buruk (karena tidak ada tempat berlindung dari pengawasan-Nya).
Implikasi Sosial dan Etika
Dalam konteks yang lebih luas di Surat Al-Isra, ayat-ayat sebelumnya menekankan larangan membunuh anak karena kefakiran, larangan mendekati zina, dan larangan mengambil harta anak yatim. Ketika ayat 17 muncul setelah rangkaian peringatan moralitas ini, maknanya menjadi semakin kuat: pelanggaran terhadap etika dasar ini adalah jalan menuju kehancuran.
Ayat ini mendorong setiap Muslim untuk hidup dengan kesadaran penuh (muraqabah). Ketika seseorang sadar bahwa setiap tindakannya diawasi oleh Zat yang Maha Kuasa, maka ia akan cenderung menahan diri dari perbuatan tercela. Ini adalah mekanisme kontrol diri yang paling efektif, jauh melampaui hukum positif buatan manusia. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui adalah fondasi bagi terciptanya masyarakat yang adil, karena keadilan sejati dimulai dari kesadaran batin individu.
Bagi mereka yang merasa tertindas oleh kekuatan yang tampak tak terkalahkan, ayat ini memberikan penghiburan: perhitungan akhir akan datang. Tidak ada kezaliman yang abadi. Sejarah kaum-kaum terdahulu yang binasa adalah bukti nyata bahwa kesombongan dan penindasan pasti akan berakhir dengan kehancuran, dan Allah SWT adalah saksi atas semua perbuatan tersebut. Pemahaman mendalam tentang Surat Isra Ayat 17 mengajarkan kita untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan, karena pertanggungjawaban mutlak berada di hadapan Sang Pencipta.