Mengenal Surat Al-Isra

Dalam susunan mushaf Al-Qur'an, umat Islam mengenal penomoran setiap surah yang memiliki makna dan kedudukannya masing-masing. Salah satu surah yang memiliki urgensi penting dalam sejarah Islam adalah Surat Al-Isra. Lantas, surat keberapa Al-Isra dalam urutan standar mushaf yang kita kenal hari ini?

1 17 Al-Isra Urutan dalam Mushaf Surat ke-17

Ilustrasi Penomoran Surat dalam Mushaf

Jawaban: Surat Ke-17

Secara definitif, Surat Al-Isra adalah surat ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini terletak setelah Surat Al-Isra' dan sebelum Surat Al-Kahf (Surat ke-18). Penomoran ini ditetapkan berdasarkan konsensus umat Islam (ittifaq) terhadap susunan yang telah diwariskan sejak zaman sahabat Nabi Muhammad SAW.

Surat Al-Isra memiliki nama lain yang juga populer, yaitu Bani Israil, diambil dari pembahasan utama pada ayat-ayat awal mengenai kehancuran dan kebangkitan bangsa Bani Israil. Surat ini termasuk golongan Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Meskipun demikian, beberapa ulama berbeda pendapat mengenai beberapa ayat tertentu yang turun di Madinah, namun secara umum, nuansa dan mayoritas isinya bersifat Makkiyah.

Konteks dan Keutamaan Al-Isra

Mengapa Surat Al-Isra begitu istimewa? Keistimewaan utamanya terletak pada ayat pertama, yang menceritakan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra Mi'raj. Perjalanan spiritual dan fisik yang membawa beliau dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju tingkatan langit tertinggi (Mi'raj).

Ayat pembuka tersebut berbunyi: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1).

Kejadian Isra Mi'raj ini menjadi peneguhan iman yang vital bagi Rasulullah di tengah tekanan dakwah yang semakin berat di Makkah. Selain kisah agung tersebut, Surat Al-Isra juga memuat berbagai pilar penting dalam etika dan akidah Islam:

Etika dan Larangan dalam Al-Isra

  1. Larangan Syirik: Surat ini secara tegas melarang penyekutuan Allah.
  2. Berbakti kepada Orang Tua: Terdapat perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dengan kelembutan, bahkan hingga ucapan 'ah' pun dilarang. Ini menunjukkan tingginya kedudukan orang tua dalam Islam.
  3. Menjauhi Perbuatan Keji: Termasuk larangan membunuh anak karena kemiskinan, berzina, dan memakan harta anak yatim secara tidak benar.
  4. Menepati Janji: Pentingnya menjaga amanah dan janji adalah bagian integral dari karakter seorang Muslim.
  5. Sikap Moderat dalam Belanja: Allah SWT mengajarkan keseimbangan, tidak boleh boros (israf) dan tidak boleh terlalu kikir (taqtitr).

Hubungan dengan Masjid Al-Aqsa

Sebagai surat yang diawali dengan perjalanan menuju Masjid Al-Aqsa, Surat Al-Isra menegaskan pentingnya tempat suci tersebut dalam sejarah kenabian. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah ditetapkan secara definitif sebagai kiblat utama. Pemahaman akan konteks ini memberikan kedalaman historis pada penamaan surat tersebut.

Secara keseluruhan, mengetahui bahwa Al-Isra adalah surat ke-17 memberikan kita titik acuan dalam mempelajari Al-Qur'an secara sistematis. Urutan ini membantu memudahkan proses penghafalan dan pemahaman kronologis tematik yang dibangun oleh para ulama melalui kompilasi mushaf.

🏠 Homepage