Peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini adalah perjalanan spiritual dan fisik yang melambangkan tingginya derajat kenabian serta kedekatan beliau dengan Allah SWT. Ketika umat Islam berbicara atau menulis surat mengenai Isra Mi'raj, fokus utama biasanya adalah menguraikan makna teologis, hikmah pendidikan, dan relevansinya bagi kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Surat atau tulisan yang mengulas peristiwa ini seringkali bertujuan untuk memperkuat keimanan dan memberikan inspirasi moral.
Sebuah surat yang komprehensif mengenai Isra Mi'raj harus membedah dua fase utama: Isra dan Mi'raj. Fase Isra adalah perjalanan malam hari Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Fase ini menunjukkan pentingnya pusat spiritualitas Islam yang pertama dan bagaimana kenabian bersambung secara geografis. Dalam surat ini, sering disinggung tentang peran Buraq sebagai kendaraan yang mempercepat perjalanan tersebut, membuktikan kuasa Allah SWT melampaui batas-batas fisika yang kita kenal.
Sementara itu, fase Mi'raj adalah kenaikan Nabi dari Masjidil Aqsa menuju tingkatan langit, bahkan Sidratul Muntaha, tempat di mana beliau menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. Bagian ini sering kali menjadi inti pembahasan dalam surat keagamaan, karena perintah salat adalah pilar kedua dalam Islam, yang menjadi 'mi'raj' bagi umatnya di dunia. Surat ini menekankan bahwa meskipun kita tidak bisa menempuh perjalanan fisik seperti Nabi, kita dapat mencapai kedekatan ilahi melalui konsistensi dalam salat.
Selain aspek historis dan keajaiban, surat mengenai Isra Mi'raj wajib menyoroti pelajaran moral yang terkandung di dalamnya. Salah satu hikmah paling mendasar adalah penguatan iman di tengah cobaan. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi mengalami tahun-tahun yang sangat berat (Amul Huzn), termasuk wafatnya istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Isra Mi'raj menjadi 'recharge' spiritual yang meyakinkan Nabi bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang taat.
Bagi pembaca surat, pesan ini sangat relevan: kesulitan hidup bukanlah akhir, melainkan ujian yang seringkali diikuti oleh pertolongan dan peninggian derajat dari Ilahi. Lebih lanjut, surat tersebut dapat mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan vertikal (dengan Tuhan melalui ibadah) dan horizontal (dengan sesama manusia, sebagaimana yang ditunjukkan Nabi saat bertemu para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit).
Dalam konteks modern, di mana tantangan hidup begitu kompleks, sebuah surat mengenai Isra Mi'raj berfungsi sebagai pengingat akan prioritas sejati. Menggambarkan bagaimana Nabi diperlihatkan pemandangan surga dan neraka dapat menjadi peringatan keras (tazkirah) tentang konsekuensi perbuatan. Surat tersebut mendorong pembaca untuk mengevaluasi kembali orientasi hidup mereka—apakah mereka mengejar tujuan duniawi semu atau tujuan akhirat yang abadi.
Pada dasarnya, surat yang membahas Isra Mi'raj bukan sekadar narasi masa lalu. Ia adalah petunjuk praktis bagaimana seorang mukmin harus menjalani kehidupan dengan penuh ketenangan, didasari keyakinan penuh bahwa meskipun mata tidak melihat, hati dapat merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta. Setiap peringatan yang termuat di dalamnya adalah undangan untuk menjadikan ibadah kita sebagai tangga spiritual menuju kebahagiaan hakiki, meneladani perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Konten ini menjadi sumber motivasi yang tak lekang oleh waktu bagi siapapun yang mencari makna dan ketenangan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.