Ilustrasi Urutan Surat dalam Mushaf
Al-Qur'an terdiri dari 114 surat. Urutan surat-surat ini telah ditetapkan berdasarkan ketetapan dari Rasulullah SAW, meskipun beberapa surat diturunkan pada waktu yang berbeda. Ketika kita berbicara mengenai surat setelah Al Hijr, kita merujuk pada surat yang menempati posisi keenam belas dalam susunan mushaf Utsmani yang kita gunakan saat ini.
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf. Oleh karena itu, surat yang secara berurutan berada tepat sesudahnya adalah surat yang ke-16. Surat ke-16 dalam Al-Qur'an adalah Surat An-Nahl. Surat ini memiliki total 129 ayat dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah, yang berarti sebagian besar ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Nama "An-Nahl" sendiri berarti lebah. Surat ini dinamai demikian karena memuat kisah dan keajaiban ciptaan lebah pada ayat 68 hingga 69, yang merupakan salah satu bukti nyata kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dan bermanfaat bagi manusia.
Sebagai surat Makkiyah, An-Nahl sering kali membahas tema-tema tauhid (keesaan Allah), bantahan terhadap kesyirikan, peringatan akan hari kiamat, serta penjelasan tentang kebesaran dan nikmat-nikmat Allah yang tersebar di alam semesta. Surat ini menekankan pentingnya bersyukur atas karunia yang diberikan Allah, mulai dari hujan yang menurunkan kehidupan hingga segala jenis makanan dan minuman yang dinikmati manusia.
Surat Al-Hijr (surat ke-15) banyak membahas tentang kebenaran Al-Qur'an, tantangan yang dihadapi para nabi, dan kisah kaum Nabi Luth. Setelah menutup pembahasan yang berat tersebut, perpindahan ke Surat An-Nahl terasa seperti sebuah transisi menuju refleksi yang lebih luas tentang keindahan ciptaan dan hukum-hukum alam yang mengatur kehidupan.
An-Nahl berfungsi untuk memperkuat akidah dengan menunjukkan bukti-bukti empiris di sekitar kita. Misalnya, ayat tentang penciptaan langit dan bumi dalam keseimbangan, penciptaan hewan ternak untuk ditunggangi dan dimakan, hingga proses menumbuhkan buah-buahan. Konten ini mengajak pembaca untuk merenungkan keahlian Sang Pencipta yang tidak tertandingi.
Meskipun penomoran surat dalam mushaf tidak selalu mencerminkan kronologi penurunan wahyu (karena surat-surat Madaniyah seperti Al-Baqarah turun lebih dulu daripada surat Makkiyah lainnya), urutan yang ada saat ini memiliki hikmahnya sendiri. Susunan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi acuan standar umat Islam dalam tilawah dan hafalan. Memahami surat setelah Al Hijr berarti kita memahami transisi narasi dari satu tema besar ke tema besar berikutnya dalam susunan Al-Qur'an.
Selain ayat tentang lebah, Surat An-Nahl juga mengandung ayat-ayat yang sangat penting terkait perintah agama dan etika sosial. Contohnya adalah perintah untuk berbuat ihsan (kebaikan) dan berlaku adil, serta larangan berbuat aniaya.
Contoh lain adalah ayat yang membahas tentang bagaimana Allah menurunkan air hujan, menghidupkan bumi yang mati, dan kemudian mengembalikannya menjadi padang rumput yang subur. Ayat-ayat ini merupakan pengingat kuat akan siklus kehidupan dan kepastian akan adanya kebangkitan setelah kematian, sebuah tema sentral dalam ajaran Islam.
Secara keseluruhan, surat ke-16, An-Nahl, melanjutkan misi dakwah yang kuat yang dimulai sejak surat-surat awal, dengan fokus pada pembuktian keesaan Allah melalui observasi terhadap alam raya dan kehidupan sehari-hari. Mempelajari konteks surat setelah Al Hijr ini memperkaya pemahaman kita tentang struktur dan kedalaman pesan yang terkandung dalam kitab suci umat Islam.