Dalam susunan mushaf Al-Qur'an yang kita kenal saat ini, urutan surat telah ditetapkan secara *tawqifi*, yaitu berdasarkan penetapan langsung dari Rasulullah SAW. Surat Al-Isra', yang juga dikenal sebagai Bani Israil, menempati posisi ke-17. Pertanyaan mengenai surat setelah Al-Isra secara otomatis merujuk pada surat yang berada di urutan ke-18 dalam mushaf.
Visualisasi urutan surat dalam mushaf.
Surat ke-18: Al-Kahf (Gua)
Surat yang secara resmi berada tepat setelah Surat Al-Isra (Al-Isrā' atau Bani Isrā'īl) adalah **Surat Al-Kahf** (Surat ke-18). Surat Al-Kahf merupakan surat Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Surat ini dikenal karena mengandung empat kisah fundamental yang dijadikan pelajaran utama bagi umat Islam hingga akhir zaman.
Keistimewaan dan Tema Utama Al-Kahf
Penempatan Surat Al-Kahf setelah Al-Isra tidak hanya masalah urutan kronologis penurunan ayat, tetapi juga memiliki relevansi tematik yang mendalam. Al-Isra berbicara tentang perjalanan malam Rasulullah SAW (Isra Mi'raj) dan memberikan penghiburan serta penegasan akan kebesaran Allah. Sementara itu, Al-Kahf memberikan landasan spiritual berupa kisah-kisah penguatan iman dalam menghadapi berbagai fitnah dunia.
Surat Al-Kahf mengandung empat narasi utama yang sangat populer:
- Kisah Ashabul Kahfi (Para Pemuda Ashabuz-Kahfi): Sekelompok pemuda yang bersembunyi di gua untuk menyelamatkan diri dari penindasan penguasa yang zalim demi mempertahankan akidah tauhid mereka. Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keimanan dan konsekuensi dari kekufuran.
- Kisah Pemilik Dua Kebun (Sahibul Jannatain): Seorang kaya yang sombong karena hasil panennya melimpah, lupa bersyukur kepada Allah, dan akhirnya hartanya musnah dalam sekejap. Ini adalah pelajaran tentang kefanaan dunia dan bahaya kesombongan.
- Kisah Nabi Musa dan Khidr (Al-Khidr): Perjalanan Nabi Musa mencari ilmu kepada hamba Allah yang bijaksana (Al-Khidr). Kisah ini menyoroti keterbatasan ilmu manusia dan hikmah di balik peristiwa yang tampak buruk di mata manusia.
- Kisah Dzulqarnain: Seorang raja penguasa dunia yang adil dan saleh yang berkeliling membangun peradaban dan membangun penghalang kokoh melawan kaum Ya’juj dan Ma’juj. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan harus digunakan untuk kebaikan dan keadilan.
Mengapa Al-Kahf Penting Dalam Konteks Ujian Iman?
Ulama sering menekankan bahwa empat kisah dalam Al-Kahf mencakup empat jenis fitnah terbesar yang akan dihadapi manusia sepanjang sejarah:
- Fitnah Agama (Dien): Diwakili oleh Ashabul Kahfi, yaitu ujian keyakinan.
- Fitnah Harta dan Kekayaan: Diwakili oleh Pemilik Kebun, yaitu ujian kesenangan duniawi.
- Fitnah Ilmu dan Kebijaksanaan: Diwakili oleh kisah Musa dan Khidr, yaitu ujian pengetahuan dan batasan pemahaman kita.
- Fitnah Kekuasaan (Sultan): Diwakili oleh Dzulqarnain, yaitu ujian ketika seseorang diberi kemampuan untuk menguasai orang lain.
Oleh karena itu, menelaah surat setelah Al-Isra ini memberikan perspektif bahwa setelah perjalanan spiritual luar biasa (Isra Mi'raj), seorang mukmin harus mempersiapkan diri menghadapi ujian nyata di bumi. Surat Al-Kahf menjadi panduan praktis untuk menavigasi godaan dunia ini dengan bekal keimanan dan tawakal kepada Allah SWT. Membaca surat ini secara rutin, terutama pada hari Jumat, diyakini memberikan cahaya pelindung dari fitnah terbesar, yaitu Dajjal.
Kesimpulan Urutan
Secara ringkas, dalam mushaf standar Utsmani, urutan penulisan Al-Qur'an menempatkan Surat Al-Isra di posisi ke-17, dan langsung diikuti oleh Surat Al-Kahf di posisi ke-18. Pemahaman terhadap isi kedua surat ini—yaitu penguatan spiritual dan persiapan menghadapi ujian dunia—memberikan wawasan penting mengenai kesinambungan pesan-pesan ilahi dalam Al-Qur'an.