Peristiwa Isra' Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik semata, melainkan sebuah manifestasi agung dari kedekatan dan kedudukan istimewa Rasulullah di sisi Sang Pencipta. Ketika kita membahas surat atau narasi mengenai Isra' Mi'raj, kita sesungguhnya sedang menelaah ayat-ayat sejarah yang meneguhkan keimanan.
Isra', sebagaimana disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem). Surat yang menceritakan peristiwa ini seringkali menyoroti dua hal utama: kecepatan dan pemeliharaan ilahi. Dalam waktu yang sangat singkat, beliau dibawa melintasi jarak yang secara normal membutuhkan perjalanan berbulan-bulan. Ini adalah penegasan bahwa hukum alam tunduk pada kehendak Allah.
Perjalanan Isra' ini juga berfungsi sebagai penghiburan agung pasca tahun-tahun penuh cobaan di Mekkah, yang dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan), di mana beliau kehilangan dua pilar pendukung utamanya: istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Setibanya di Al-Aqsa, Rasulullah memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, sebuah isyarat bahwa risalah Islam adalah puncak dan penyempurnaan dari seluruh risalah kenabian yang pernah ada. Surat-surat sejarah menekankan bahwa shalat lima waktu diwajibkan langsung di sana, sebagai tiang agama yang kokoh.
Setelah Isra', tibalah fase yang lebih misterius dan agung, yaitu Mi'raj (kenaikan). Beliau dibawa naik melewati tujuh lapisan langit. Dalam setiap lapisan, beliau berjumpa dengan para nabi terdahulu. Di lapisan langit pertama bertemu Nabi Adam, di lapisan lain bertemu Nabi Ibrahim, dan seterusnya. Kisah-kisah ini, yang diabadikan dalam berbagai riwayat, memberikan pelajaran bahwa setiap nabi membawa misi yang sama: mentauhidkan Allah.
Puncak dari Mi'raj adalah ketika Rasulullah mencapai Sidratul Muntaha, batas tertinggi yang tidak dapat dilewati oleh makhluk mana pun. Di sanalah terjadi dialog langsung dengan Allah SWT, di mana diperintahkanlah lima puluh kali shalat sehari semalam, yang kemudian dikurangi menjadi lima waktu sehari semalam. Surat yang mengupas Mi'raj selalu menekankan sifat ilahi yang Maha Penyayang, yang memberikan keringanan atas umat Nabi Muhammad, tanpa mengurangi nilai ibadah itu sendiri.
Makna terdalam dari surat tentang Isra' Mi'raj terletak pada tantangan keimanan yang dibawanya. Ketika Rasulullah kembali dan menceritakan perjalanannya, banyak orang kafir Mekkah yang semakin mengolok-olok. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkannya tanpa keraguan sedikit pun, bahkan menambahkan bahwa ia akan membenarkan jika Rasulullah menceritakan perjalanan dari langit ke bumi sekalipun. Inilah standar keimanan yang seharusnya kita ambil: pembenaran total terhadap apa pun yang bersumber dari kebenaran ilahi, meskipun akal terbatas belum mampu menjangkaunya.
Peristiwa ini membuktikan bahwa spiritualitas Islam melampaui batasan ruang dan waktu. Ia menawarkan perspektif bahwa ada realitas yang jauh lebih besar di balik tirai dunia materi yang kita saksikan sehari-hari. Surat-surat yang merangkum momen ini menjadi pengingat bahwa ibadah kita—terutama shalat—adalah penghubung vertikal kita langsung dengan Sang Khaliq. Ia mengingatkan bahwa sebagai umat Islam, kita terikat pada visi kosmik, bukan sekadar urusan duniawi sempit.
Oleh karena itu, merenungi narasi Isra' Mi'raj adalah upaya untuk menstimulasi hati agar senantiasa terhubung dengan dimensi gaib yang pasti kebenarannya. Ia mengajarkan ketabahan, keikhlasan dalam dakwah, dan keyakinan mutlak terhadap janji Allah, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh keteladanan paripurna Nabi Muhammad SAW.
Demikianlah secercah renungan mengenai peristiwa agung tersebut. Semoga kita dapat memetik pelajaran berharga untuk memperkuat iman dan amal perbuatan kita.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.