Menguak Makna Mukjizat Isra dan Mi'raj

Perjalanan Mukjizat

Mukjizat Al-Isra dan Artinya merupakan salah satu peristiwa agung dalam sejarah kenabian Muhammad SAW. Peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian utama: Isra dan Mi'raj. Isra merujuk pada perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara itu, Mi'raj adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsa naik ke langit lapis demi lapis hingga mencapai batas yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk lain.

Peristiwa ini diceritakan dalam sumber-sumber Islam yang terpercaya, terutama Al-Qur'an surat Al-Isra ayat pertama dan diperkuat oleh berbagai hadis sahih. Ayat tersebut berbunyi, "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Isra dan Artinya Masjidilharam ke Masjidilaksa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Makna Mendalam di Balik Isra

Perjalanan Isra sendiri merupakan sebuah penegasan status kenabian di tengah cobaan berat. Sebelum peristiwa ini terjadi, Nabi Muhammad SAW baru saja menghadapi tahun yang sangat menyedihkan, dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan), karena kehilangan paman tercinta, Abu Thalib, dan istri terkasih, Khadijah. Keduanya adalah benteng pelindung beliau di Mekkah. Dengan membawanya melakukan Al-Isra, Allah SWT memberikan penghiburan ilahiah dan menunjukkan bahwa perjuangan beliau tidaklah sia-sia.

Perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem, yang secara normal memakan waktu berminggu-minggu dengan unta, ditempuh Nabi dalam satu malam. Hal ini menunjukkan superioritas kekuasaan Allah atas hukum alam fisika yang berlaku bagi manusia biasa. Tiba di Masjidil Aqsa, Nabi SAW melaksanakan salat bersama para nabi terdahulu, sebuah penanda bahwa beliau adalah pemimpin spiritual tertinggi dari seluruh umat nabi-nabi.

Mi'raj: Kenaikan ke Hadirat Ilahi

Setelah Isra, Nabi SAW dibawa naik ke langit (Mi'raj). Dalam Mi'raj, Nabi SAW bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit, seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan seterusnya. Pengalaman ini menegaskan kesinambungan risalah Islam dari masa ke masa, dan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin).

Puncak dari perjalanan Al-Isra dan Artinya adalah ketika Nabi SAW diizinkan memasuki tingkatan tertinggi, yaitu Sidratul Muntaha, sebuah pohon batas yang agung, dan kemudian diizinkan menghadap Allah SWT secara langsung (tanpa melihat wujud-Nya). Dalam momen inilah, perintah shalat lima waktu diwajibkan bagi umat Islam.

Hikmah dan Signifikansi

Peristiwa agung ini membawa banyak sekali hikmah. Pertama, ia adalah mukjizat fisik yang membuktikan kebenaran dakwah Rasulullah di hadapan keraguan kaum kafir. Kedua, penetapan shalat lima waktu adalah rahmat terbesar; perintah yang diterima langsung dari Allah SWT, berbeda dengan ajaran-ajaran sebelumnya yang disampaikan melalui perantara. Shalat menjadi penghubung spiritual antara hamba dengan Penciptanya, sebagaimana Nabi telah diperjalankan secara fisik melewati batas alam semesta.

Kejadian ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya spiritualitas yang tinggi, keteguhan iman di tengah kesulitan, dan bahwa pencapaian tertinggi hanya mungkin terjadi melalui kehendak dan pertolongan Ilahi. Pemahaman mendalam tentang Al-Isra dan Artinya memberikan inspirasi untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahkan ketika dunia terasa berat dan gelap.

Singkatnya, peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan, melainkan sebuah diploma kehormatan tertinggi dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang paling dicintai, sekaligus menjadi landasan fundamental dalam ritual ibadah umat Muslim hingga akhir zaman.

🏠 Homepage