Menggali Makna Surat yang Menerangkan Isra Mi'raj

Perjalanan Malam Ilahi Ilustrasi visual perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini merupakan perjalanan spiritual dan fisik yang memukau, membawa Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian dilanjutkan naik ke langit hingga ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Dalam konteks keislaman, peristiwa agung ini tidak hanya menjadi penguatan iman bagi umat Muslim, tetapi juga membawa banyak hikmah dan pelajaran berharga.

Keterangan dalam Sumber Utama

Meskipun inti dari kisah Isra Mi'raj tertuang jelas dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surah Al-Isra' ayat 1, detail lengkap mengenai kronologi dan apa yang disaksikan Nabi Muhammad SAW lebih banyak dijelaskan dalam literatur hadis. Oleh karena itu, ketika membahas "surat yang menerangkan Isra Mi'raj," kita merujuk pada ayat-ayat suci yang menjadi fondasi utama, ditambah dengan hadis-hadis sahih yang berfungsi sebagai penjelas (tafsir).

Ayat pembuka yang menjadi landasan utama adalah: "Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1).

Ayat ini secara eksplisit membenarkan adanya perjalanan malam (Isra') dan menekankan bahwa tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kepada Nabi SAW sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Peran Hadis dalam Melengkapi Kisah

Jika Al-Qur'an memberikan "apa" dan "mengapa" secara ringkas, maka hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat terpercaya memberikan "bagaimana" perjalanan itu terjadi. Berbagai riwayat dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim melengkapi narasi ini dengan detail mengenai kendaraan (Buraq), pertemuan dengan para nabi terdahulu di berbagai tingkatan langit, hingga dialog Nabi dengan Allah SWT yang menghasilkan penetapan syariat shalat lima waktu sehari semalam.

Banyak ulama yang menyusun risalah khusus mengenai peristiwa ini. Risalah-risalah ini, yang sering disebut sebagai "kitab" atau "risalah" Isra Mi'raj, berfungsi sebagai kompilasi komprehensif dari berbagai riwayat hadis yang menerangkan peristiwa tersebut. Bagi seorang muslim, surat atau risalah yang menerangkan Isra Mi'raj adalah jembatan antara pemahaman ringkas ayat Al-Qur'an dengan realitas pengalaman spiritual Nabi SAW.

Hikmah yang Diambil dari Surat Penjelasan

Pemahaman mendalam melalui berbagai narasi (surat/kitab) tentang Isra Mi'raj mengajarkan beberapa pelajaran penting. Pertama, penguatan tauhid. Perjalanan ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang utusan yang diistimewakan oleh Allah. Kedua, pentingnya shalat. Penetapan shalat lima waktu langsung dari hadirat Ilahi menunjukkan kedudukan sentral ibadah ini dalam Islam, menjadikannya komunikasi langsung antara hamba dengan Pencipta.

Ketiga, hikmah kesabaran dan keteguhan hati. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ini setelah melalui tahun-tahun yang penuh cobaan berat (Amul Huzn atau Tahun Kesedihan). Isra Mi'raj menjadi 'rehat' spiritual dan penyegaran semangat sebelum beliau melanjutkan dakwahnya di bumi. Hal ini memberikan pelajaran bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT.

Konteks Historis dan Spiritual

Kisah Isra Mi'raj menjadi penegasan keras terhadap keraguan yang dihadapi Nabi di Mekkah. Ketika beliau kembali dan menceritakan perjalanannya, banyak yang mendustakannya. Namun, karena kisah ini bersumber dari wahyu dan didukung oleh bukti-bukti mukjizat (seperti penjelasan detail tentang Masjidil Aqsa yang belum pernah dikunjungi Nabi sebelumnya), iman para pengikutnya semakin kokoh.

Oleh karena itu, "surat yang menerangkan Isra Mi'raj" – baik itu ayat Al-Qur'an maupun tafsir hadis yang dikompilasi – berfungsi sebagai arsip abadi mengenai bagaimana Allah SWT memberikan dukungan tertinggi-Nya kepada Rasul-Nya. Ini adalah bukti nyata kebenaran risalah Islam yang melampaui batas-batas ruang dan waktu.

Secara keseluruhan, mempelajari kisah ini membantu umat Islam memahami kedalaman hubungan antara Nabi Muhammad SAW dengan Rabb-nya, serta pentingnya menjaga hubungan spiritual melalui ibadah yang telah ditetapkan.

🏠 Homepage