Membongkar Hikmah di Balik Tafsir Surah Al-Isra

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat Makkiyah yang kaya akan muatan sejarah, peringatan moral, dan landasan akidah. Nama surat ini diambil dari ayat pertama yang menceritakan peristiwa Isra’ Mi’raj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Memahami tafsir surah ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana Islam memandang sejarah umat terdahulu, etika sosial, serta batasan-batasan kebebasan manusia.

Ilustrasi Perjalanan Isra' Mi'raj dari Masjid ke Masjid

Ilustrasi Perjalanan Spiritual Malam

Kisah Isra' Mi'raj dan Peringatan Sejarah

Ayat pembuka, yang mengisahkan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar narasi geografis, melainkan penegasan status kenabian dan penghiburan di tengah tantangan dakwah. Tafsir mendalam ayat ini menekankan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala batasan ruang dan waktu. Setelah bagian Isra' (perjalanan darat/udara ke Al-Aqsa), surah ini beralih fokus pada pelajaran dari umat-umat terdahulu, khususnya Bani Israil.

Pelajaran dari Kebinasaan Umat Terdahulu

Allah SWT berulang kali mengisahkan bagaimana Bani Israil, meskipun telah dianugerahi banyak nikmat kenabian dan kitab suci, seringkali jatuh dalam kesombongan, pembangkangan, dan kerusakan moral. Tafsir surah ini secara tegas memperingatkan umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Peringatan ini mencakup larangan berbuat kerusakan di muka bumi, berlaku aniaya, dan melanggar batas-batas syariat.

"Dan Kami telah memberikan kepada Musa Kitab Taurat, dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil..." (Tafsir konteks ayat 2). Peringatan keras diberikan bagi mereka yang menyalahgunakan nikmat ilmu dan kekuasaan.

Etika Sosial dan Batasan Akidah

Surah Al-Isra juga dikenal sebagai gudang ajaran etika sosial yang fundamental. Beberapa poin utama yang ditekankan meliputi:

  1. Berbakti kepada Orang Tua: Penekanan luar biasa diberikan pada perlakuan terbaik terhadap kedua orang tua, hingga larangan mengucapkan kata "ah" atau membentak. Ini menunjukkan hierarki prioritas Islam dalam struktur keluarga.
  2. Larangan Membunuh Anak (Karena Kemiskinan): Ayat ini secara tegas melarang pembunuhan yang didasari ketakutan akan kemiskinan. Allah yang Maha Pemberi rezeki menjamin kehidupan.
  3. Kehati-hatian Terhadap Harta Anak Yatim dan Larangan Israf: Ayat ini mengajarkan manajemen finansial yang bertanggung jawab, menjaga hak orang lemah, serta menghindari pemborosan yang melampaui batas.
  4. Kejujuran dalam Berdagang dan Menepati Janji: Norma kejujuran dalam muamalah diperkuat sebagai pilar masyarakat yang adil.

Konsep Pertanggungjawaban Individu

Salah satu tema sentral dalam tafsir Al-Isra adalah konsep 'amal (perbuatan) dan pertanggungjawaban di akhirat. Manusia diperingatkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.

Ayat-ayat yang membahas tentang ilmu Tuhan yang meliputi segala sesuatu, termasuk niat tersembunyi dalam hati, berfungsi sebagai pengingat konstan. Tidak ada tempat bersembunyi dari pengawasan Ilahi. Tafsir ini menegaskan bahwa kebebasan berkehendak (ikhtiyar) yang diberikan kepada manusia adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran moral dan spiritual.

Kedudukan Akal dan Kebijaksanaan

Surah ini juga mendorong penggunaan akal dan kebijaksanaan. Islam tidak datang untuk mengebiri akal, melainkan membimbingnya menuju kebenaran. Ketika manusia bergerak di muka bumi, mereka harus melakukannya dengan sikap tawadhu (rendah hati), bukan dengan kesombongan atau keangkuhan. Sikap merendah dalam berjalan mencerminkan sikap hati yang tidak melampaui batas, sesuai dengan ajaran tauhid.

Secara keseluruhan, tafsir Surah Al-Isra adalah panggilan untuk kembali kepada fitrah, menjaga hubungan vertikal dengan Tuhan melalui ketaatan, dan membangun hubungan horizontal yang harmonis di masyarakat melalui keadilan, kasih sayang, dan integritas moral. Surah ini berfungsi sebagai cermin bagi setiap generasi untuk menilai sejauh mana mereka telah menjaga amanah kebenaran yang diwariskan.

🏠 Homepage