Ilustrasi: Sifat cepatnya manusia dalam meminta dan sifat kefanaan dari apa yang diminta.
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
"Dan manusia (seringkali) berdoa untuk keburukan sebagaimana (dahulu) ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia itu (bersifat) tergesa-gesa." (QS. Al-Isra: 11)
Surat Al-Isra (Bani Israil) ayat ke-11 adalah ayat yang sangat mendalam dan mengupas dua sisi kontradiktif dalam sifat dasar kemanusiaan. Ayat ini dibuka dengan sebuah pengamatan tajam dari Allah SWT mengenai perilaku doa manusia. Ayat ini diawali dengan kalimat: "Dan manusia (seringkali) berdoa untuk keburukan sebagaimana (dahulu) ia berdoa untuk kebaikan."
Para mufassir menjelaskan bahwa kata "syarr" (keburukan) di sini bukanlah doa yang secara eksplisit meminta sesuatu yang jahat, melainkan sebuah bentuk doa yang dilakukan tanpa perhitungan matang, didorong oleh emosi sesaat, kemarahan, atau keputusasaan. Misalnya, ketika seseorang sedang sakit parah dan frustrasi, ia mungkin berdoa agar diakhiri penderitaannya secepat mungkin, meskipun kematian itu sendiri, jika datang tidak pada waktunya, bisa menjadi keburukan. Atau ketika ia ditimpa musibah dagangan, ia mungkin berharap agar orang yang menzaliminya cepat binasa.
Dalam kondisi emosi yang memuncak, manusia seringkali lupa bahwa doa yang dipanjatkan dalam amarah bisa kembali kepada dirinya sendiri atau keluarganya. Sebagaimana ia memohon kebaikan (rezeki, kesehatan, kemudahan), ia juga bisa memohon hal yang sebaliknya karena didorong oleh kegelisahan yang mendalam. Ini menunjukkan betapa lemahnya pertimbangan akal manusia ketika hawa nafsu atau emosi menguasai.
Pangkal dari perilaku doa yang tidak terukur ini dijelaskan pada bagian akhir ayat: "Dan adalah manusia itu (bersifat) tergesa-gesa (ʿajūlan)." Sifat tergesa-gesa ini adalah karakteristik inheren yang melekat pada penciptaan manusia.
Apa arti tergesa-gesa dalam konteks ini? Pertama, manusia ingin segala sesuatu terjadi secara instan. Ketika berdoa memohon kesembuhan, ia ingin sembuh saat itu juga. Ketika meminta rezeki, ia ingin rezeki itu datang tanpa proses. Sifat ini membuatnya tidak sabar menunggu ketetapan dan hikmah Allah dalam proses penantian.
Kedua, tergesa-gesa dalam menilai. Manusia tergesa-gesa mengambil kesimpulan bahwa apa yang diinginkan adalah kebaikan mutlak, padahal di balik penundaan atau cobaan terdapat pelajaran penting atau pencegahan dari keburukan yang lebih besar. Misalnya, penundaan terkabulnya doa bisa jadi adalah cara Allah untuk membersihkan dosa atau meninggikan derajat.
Dalam tafsir lain, sifat 'ajulan ini juga terkait dengan ketidaksabarannya dalam menghadapi azab. Ketika Allah menunda hukuman atas orang-orang kafir, mereka justru berkata, "Mana ancamanmu itu?" (sebagaimana disinggung di ayat-ayat sebelumnya). Mereka tidak sabar menunggu janji Allah ditepati, padahal penundaan itu adalah rahmat bagi mereka agar sempat bertobat.
Ayat ini mengajarkan kita untuk mengontrol diri, terutama saat berdoa. Kita harus menyadari bahwa keinginan kita mungkin tidak sejalan dengan kemaslahatan sejati yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Keseimbangan Doa: Seorang mukmin harus senantiasa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan. Ketika memohon sesuatu, tambahkanlah klausul yang menunjukkan penyerahan diri kepada kehendak Ilahi, seperti ucapan, "Ya Allah, jika hal itu baik bagiku di dunia dan akhirat, maka jadikanlah ia nyata."
Melawan Kegesitan: Kesabaran (shabr) adalah penawar bagi sifat tergesa-gesa. Islam mendorong umatnya untuk berproses dan memahami bahwa segala sesuatu memiliki waktu yang tepat (ajal) yang telah ditentukan Allah. Menerima proses adalah bagian integral dari iman.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 11 adalah cerminan jujur tentang kondisi psikologis manusia—mudah khawatir, cepat marah, dan selalu menginginkan hasil instan. Memahami tafsir ayat ini membantu seorang hamba untuk lebih bijak dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, memohon dengan kesadaran penuh akan keterbatasan pandangan dirinya.