Tanaman tuba, yang secara ilmiah dikenal sebagai Derris elliptica atau spesies lain dalam genus Derris dan Lonchocarpus, merupakan tanaman merambat dari keluarga Fabaceae. Tanaman ini sangat terkenal, terutama di Asia Tenggara, bukan karena keindahan bunganya, melainkan karena kandungan senyawa kimia yang dimilikinya: rotenon. Selama berabad-abad, tanaman tuba telah dimanfaatkan secara tradisional, namun penggunaannya memerlukan pemahaman mendalam mengenai potensi bahaya yang terkandung di dalamnya.
Karakteristik dan Habitat
Tanaman tuba tumbuh subur di daerah tropis, terutama di hutan-hutan lebat Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki ciri khas sebagai liana atau tanaman merambat berkayu yang mampu menjalar panjang, mencari tempat untuk bersandar. Daunnya tersusun majemuk, dan ketika bagian akar atau batang tanaman ini dihancurkan atau dikunyah, akan tercium bau khas yang menandakan keberadaan zat beracun.
Bagian tanaman tuba yang paling kaya akan senyawa aktif adalah akar dan rimpangnya. Kandungan utama yang menarik perhatian adalah rotenon, sebuah senyawa isoflavonoid yang sangat toksik bagi organisme tertentu, terutama serangga dan ikan. Karena sifat inilah, tanaman tuba mendapatkan namanya, yang dalam bahasa Melayu berarti 'racun'.
Pemanfaatan Tradisional: Racun Ikan
Penggunaan tanaman tuba yang paling umum dan bersejarah adalah sebagai racun ikan tradisional. Penduduk lokal di pedesaan sering menggunakan ekstrak dari akar tuba untuk menangkap ikan dalam jumlah besar di sungai atau danau kecil. Mekanisme kerjanya sangat efektif: rotenon mengganggu proses respirasi seluler pada ikan, menyebabkan ikan kekurangan oksigen dan akhirnya mati atau pingsan, sehingga mudah diambil. Metode ini, meskipun tradisional, kini semakin ditinggalkan karena dampaknya yang tidak selektif terhadap ekosistem perairan.
Selain untuk perikanan, ekstrak tuba juga pernah digunakan sebagai pestisida alami untuk melindungi tanaman dari serangan hama serangga. Karena sifatnya yang berasal dari alam, pada masa lalu ia dianggap lebih aman dibandingkan pestisida kimia sintetik yang baru ditemukan. Namun, penggunaan ini pun harus diwaspadai mengingat toksisitasnya yang tinggi.
Rotenon: Senyawa Berbahaya
Rotenon adalah komponen bioaktif utama yang membuat tanaman tuba berbahaya. Senyawa ini adalah racun kuat yang dapat mempengaruhi berbagai jenis kehidupan, tidak hanya targetnya. Bagi manusia dan mamalia lainnya, rotenon bekerja dengan menghambat rantai transpor elektron mitokondria, yang esensial untuk produksi energi seluler (ATP). Paparan berlebihan dapat menyebabkan gejala keracunan serius.
Gejala keracunan rotenon dapat meliputi iritasi mata dan kulit, mual, muntah, nyeri perut, kesulitan bernapas, hingga gangguan sistem saraf pusat. Oleh karena bahaya ini, penggunaan tanaman tuba dalam bentuk apa pun—baik untuk mengusir hama atau aplikasi lainnya—memerlukan kehati-hatian ekstrem dan pengetahuan mendalam. Di banyak negara modern, penggunaan rotenon sebagai pestisida telah dibatasi atau bahkan dilarang karena risiko ekotoksikologis dan kesehatan manusia.
Status Konservasi dan Persepsi Modern
Meskipun popularitasnya menurun akibat regulasi dan peningkatan kesadaran akan bahaya toksisitas, tanaman tuba tetap menjadi bagian penting dari botani lokal. Bagi para peneliti, tanaman ini terus dipelajari potensinya dalam farmakologi modern, meskipun fokusnya lebih diarahkan pada pemisahan dan modifikasi senyawa, bukan penggunaan ekstrak mentah.
Dalam konteks kelestarian lingkungan, penggunaan tuba sebagai alat tangkap ikan telah menimbulkan kontroversi besar. Praktik ini menyebabkan kematian massal ikan, larva, dan organisme air lainnya, merusak keanekaragaman hayati lokal secara signifikan. Pemerintah dan lembaga konservasi seringkali melarang keras praktik penuba'an ini untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Kesimpulannya, tanaman tuba adalah contoh klasik dari tanaman yang memiliki dua sisi: manfaat tradisional yang signifikan sebagai agen pengendali hama (racun) dan bahaya toksik yang serius jika disalahgunakan. Memahami batasan antara pemanfaatan dan risiko adalah kunci dalam berinteraksi dengan kekayaan flora tropis seperti ini.