Visualisasi Konseptual Asal Mula Kosmos
Al-Qur'an, sebagai kitab suci umat Islam, tidak hanya memuat ajaran moral dan spiritual, tetapi juga memberikan petunjuk mendalam mengenai alam semesta dan asal-usulnya. Konsep penciptaan menurut Al-Qur'an sering kali disejajarkan dengan penemuan-penemuan ilmiah modern, terutama terkait dengan teori Dentuman Besar (Big Bang). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang melampaui zamannya.
Ayat kunci dalam memahami awal mula alam semesta adalah Surah Al-Anbiya ayat 30. Ayat ini secara eksplisit menyebutkan kondisi awal alam semesta sebagai "padu" atau "menyatu" (ratqan). Dalam tafsir klasik dan modern, istilah ini diartikan sebagai satu kesatuan materi yang padat dan belum terpisah. Pemisahan yang kemudian terjadi dikenal sebagai "fatq" (pemisahan).
Pemisahan ini sangat mirip dengan deskripsi Teori Big Bang, di mana alam semesta bermula dari satu singularitas energi dan materi yang sangat padat, kemudian mengalami ekspansi cepat dan diferensiasi menjadi bintang, galaksi, dan planet. Al-Qur'an menegaskan bahwa pemisahan ini adalah hasil kehendak dan kuasa Allah SWT.
Aspek penting lain dari kosmologi Al-Qur'an adalah deskripsi mengenai ekspansi atau pengembangan alam semesta. Ayat yang sering dirujuk adalah Surah Adz-Dzaariyat ayat 47: "Dan langit itu telah Kami bangun dengan tangan Kami dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya."
Kata Arab "muusi'uun" (Kami benar-benar meluaskan) menunjukkan bahwa proses penciptaan bukanlah peristiwa tunggal yang berhenti, melainkan proses berkelanjutan berupa perluasan ruang angkasa. Penemuan Edwin Hubble pada abad ke-20 mengenai galaksi yang saling menjauh membuktikan bahwa alam semesta kita terus mengembang. Kesamaan antara ayat kuno ini dengan temuan kosmologi modern menunjukkan kedalaman ilmu yang terkandung dalam teks suci.
Selain pemisahan materi awal, Al-Qur'an juga menekankan peran air sebagai fondasi kehidupan. Frasa "wa ja'alna min al-ma'i kulla syai'in hayy" (dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup) menunjukkan bahwa air adalah medium fundamental pembentuk kehidupan.
Dalam konteks penciptaan alam semesta secara makro, air di sini dapat diinterpretasikan secara lebih luas sebagai zat cair atau plasma primordial yang menjadi bahan dasar pembentukan bintang dan kemudian planet yang memungkinkan keberadaan air cair di permukaannya. Walaupun sains modern menunjukkan bahwa unsur hidrogen dan oksigen (pembentuk air) tercipta dalam proses nukleosintesis bintang, penekanan Al-Qur'an pada air sebagai sumber kehidupan sangat relevan, baik secara biologis di bumi maupun sebagai komponen utama materi antarbintang.
Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam "yawaam" (hari/masa). Para mufassir menjelaskan bahwa kata "yawaam" dalam konteks penciptaan kosmik tidak selalu merujuk pada periode 24 jam seperti yang kita kenal, melainkan merujuk pada periode waktu yang sangat panjang atau era geologis.
Jika dikaitkan dengan teori ilmiah, enam masa ini dapat merefleksikan tahapan-tahapan evolusi alam semesta: dari pembentukan partikel sub-atomik, nukleosintesis unsur ringan, pembentukan bintang dan galaksi, hingga pembentukan tata surya dan planet yang layak huni. Keteraturan dalam tahapan penciptaan ini menegaskan prinsip keteraturan dan keteraturan yang mendasari alam semesta, yang diyakini bersumber dari Zat Maha Kuasa.
Secara keseluruhan, teori penciptaan alam semesta dalam Al-Qur'an menyajikan kerangka kerja kosmologis yang sangat terstruktur, dimulai dari kesatuan awal (ratq), pemisahan (fatq), ekspansi yang berkelanjutan, dan peran elemen dasar (air), yang semuanya mengarah pada kesimpulan bahwa alam semesta adalah ciptaan yang direncanakan secara sempurna.