Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar (kekhusyukan) syiar-syiar Allah, dan jangan (pula melanggar) bulan haram, hadyu (hewan kurban yang dipersembahkan ke Baitullah), juga orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhan mereka, dan apabila kamu telah bertahallul (selesai dari ihram), maka berburulah. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Visualisasi keseimbangan dan larangan pelanggaran (Alt Text: Timbangan yang seimbang dengan simbol larangan)
Ayat kedua dari Surat Al-Maidah ini adalah salah satu landasan hukum yang sangat penting dalam Islam, mengatur batasan-batasan ritual dan etika sosial di antara kaum mukminin. Ayat ini diawali dengan panggilan yang mulia, "Wahai orang-orang yang beriman!", menegaskan bahwa perintah dan larangan berikut ini adalah bagian integral dari iman seseorang.
Allah SWT melarang umat Islam untuk melanggar atau meremehkan beberapa hal yang memiliki kesucian khusus:
Setelah larangan tersebut, ayat ini memberikan kelonggaran yang terikat waktu dan kondisi: "Apabila kamu telah bertahallul (selesai dari ihram), maka berburulah." Ini menunjukkan bahwa larangan berburu adalah bagian dari larangan ihram. Setelah selesai ritual, hukum berburu kembali normal, kecuali jika masih berada di tanah haram (Mekkah).
Bagian paling krusial dari ayat ini adalah perintah untuk menjaga keadilan, meskipun sedang dalam situasi permusuhan:
"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil."
Ini merupakan standar moralitas tertinggi dalam Islam. Permusuhan politik, ideologis, atau sejarah tidak boleh menjadi pembenaran untuk menzalimi, melanggar hak, atau berlaku curang terhadap siapa pun, termasuk musuh. Ketidakadilan (zulm) adalah musuh dari ketaqwaan.
Ayat ini ditutup dengan dua perintah kolaboratif yang menjadi fondasi etika sosial Islam:
Ayat ini menggarisbawahi bahwa takwa sejati tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual semata, tetapi juga dalam cara berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan dalam kondisi perselisihan. Karena pada akhirnya, "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," tidak ada niat tersembunyi yang terlepas dari pengawasan-Nya.