Air raksa, atau yang dikenal dengan nama kimia mercurium dan simbol Hg, adalah unsur kimia logam transisi yang unik. Sifatnya yang cair pada suhu ruang menjadikannya sangat menarik dan memiliki berbagai aplikasi historis. Namun, perlu digarisbawahi sejak awal bahwa air raksa adalah zat yang sangat beracun. Artikel ini akan membahas potensi cara pembuatan air raksa dan sumbernya, namun dengan penekanan kuat pada aspek keselamatan dan larangan keras untuk mencoba membuatnya di rumah tanpa pengawasan profesional yang ketat.
Keistimewaan utama air raksa adalah wujudnya yang cair pada temperatur dan tekanan standar. Logam lain umumnya berwujud padat. Sifat ini disebabkan oleh gaya antaratom yang lemah pada air raksa. Titik lelehnya yang sangat rendah (-38.83 °C) dan titik didihnya yang relatif tinggi (356.73 °C) menjadikannya ideal untuk beberapa kegunaan spesifik. Selain itu, air raksa adalah konduktor listrik yang baik, meskipun bukan yang terbaik dibandingkan logam lain.
Secara alamiah, air raksa dapat ditemukan dalam berbagai bentuk mineral, terutama sebagai cinnabar (merkuri sulfida, HgS). Cinnabar adalah bijih utama dari mana air raksa diekstraksi dalam skala industri. Bijih ini biasanya ditemukan di daerah vulkanik atau pegunungan.
Dalam skala industri, air raksa biasanya diekstraksi dari cinnabar melalui proses pemanasan yang kuat. Proses ini dikenal sebagai pirometalurgi. Berikut adalah gambaran umum prosesnya:
HgS (s) + O2 (g) → Hg (g) + SO2 (g)
Penting untuk dicatat bahwa proses ini sangat berbahaya karena menghasilkan gas beracun seperti sulfur dioksida dan gas air raksa itu sendiri yang sangat mudah menguap dan beracun.
Karena sifatnya yang unik, air raksa pernah digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi:
Sangat penting untuk memahami bahwa air raksa dan senyawanya sangat beracun. Paparan terhadap air raksa, bahkan dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan masalah kesehatan serius yang bersifat akut maupun kronis.
Karena bahaya yang ditimbulkannya, banyak negara telah mengeluarkan regulasi ketat untuk membatasi atau melarang penggunaan air raksa dalam berbagai produk. Inisiatif seperti Konvensi Minamata tentang Air Raksa bertujuan untuk mengurangi paparan manusia dan lingkungan terhadap unsur berbahaya ini. Inovasi terus dilakukan untuk menggantikan air raksa dengan teknologi yang lebih aman, seperti termometer digital, termometer alkohol, atau sensor elektronik lainnya.
Kesimpulannya, meskipun air raksa memiliki sifat yang menarik secara kimiawi dan historis, potensi bahayanya jauh lebih besar daripada manfaatnya dalam banyak aplikasi. Pengetahuan tentang cara kerjanya dan sumbernya penting untuk pemahaman ilmiah, namun upaya untuk membuatnya sendiri di luar konteks laboratorium yang aman adalah tindakan yang sangat tidak disarankan dan berbahaya.