Ayat pertama dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Surah Bani Isra'il) membuka wahyu dengan sebuah pernyataan takzim yang luar biasa: "Subhana Alladzi Asra Bi-Abdihi Laylan...". Kata "Subhan" (Maha Suci) diletakkan di awal ayat, menandakan bahwa peristiwa yang akan disebutkan adalah peristiwa yang melampaui pemahaman rasio dan logika manusia biasa. Ini adalah pengakuan mutlak atas kesempurnaan dan keagungan Allah SWT yang mampu melakukan hal-hal di luar hukum alam yang kita kenal.
Peristiwa yang dimaksud adalah Isra' Mi'raj, sebuah perjalanan mukjizat yang dialami langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Kata "Asra" secara spesifik berarti perjalanan di malam hari. Fakta bahwa perjalanan ini dilakukan "Laylan" (pada malam hari) menekankan betapa tersembunyinya peristiwa ini dari pandangan umum, menjadikannya ujian keimanan yang nyata bagi para sahabat.
Allah SWT tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dengan nama-Nya secara langsung, melainkan menggunakan sebutan mulia, "Bi-'Abdihi" (Hamba-Nya). Penggunaan kata "hamba" ini memiliki kedalaman makna. Pertama, ini menunjukkan derajat ketundukan dan pengabdian sempurna Nabi kepada Tuhannya. Kedua, ini menunjukkan bahwa meskipun beliau dianugerahi mukjizat terbesar, beliau tetaplah seorang hamba yang membutuhkan pertolongan dan bimbingan Ilahi. Ini adalah pengajaran bahwa kedudukan tertinggi dicapai melalui perbudakan yang tulus kepada Allah.
Perjalanan ini dimulai dari Al-Masjidil Haram (Masjidil Haram di Mekkah) dan berakhir di Al-Masjidil Aqsa (Masjid Al-Aqsa di Yerusalem). Jarak antara dua masjid ini sangat jauh, dan menempuh perjalanan darat pada masa itu membutuhkan waktu berminggu-minggu. Kenyataan bahwa perjalanan ini diselesaikan dalam satu malam menegaskan sifat mukjizatnya yang mustahil dicapai oleh manusia biasa.
Pemilihan kedua lokasi ini juga sangat signifikan secara historis dan spiritual. Al-Masjidil Haram adalah pusat tauhid sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Sementara itu, Al-Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, tempat para nabi terdahulu (seperti Nabi Daud dan Sulaiman) beribadah, dan merupakan tempat peristirahatan spiritual sebelum Nabi Muhammad SAW naik ke sidratul muntaha dalam perjalanan Mi'raj. Ayat ini menegaskan kesinambungan misi kenabian, dari Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad, yang semuanya berpusat pada penyembahan satu Tuhan yang Esa.
Para ulama tafsir sepakat bahwa Isra' ini adalah peristiwa fisik yang dialami oleh Rasulullah SAW dalam keadaan terjaga, bukan sekadar mimpi. Tujuannya adalah untuk memberikan penghiburan dan penguatan iman kepada beliau, terutama setelah mengalami tahun kesedihan (Amul Huzn), di mana beliau kehilangan paman tercinta dan istri yang sangat mendukungnya. Ketika dakwah di Makkah semakin sulit, Allah SWT mengangkat derajat beliau untuk menyaksikan langsung kebesaran-Nya.
Ayat ini, walau singkat, mengandung pesan universal. Ia mengajarkan bahwa di tengah kesulitan duniawi, keimanan sejati akan dibalas dengan penglihatan ilahi yang luar biasa. Perjalanan ini berfungsi sebagai bukti otentik kenabian dan pilar utama dalam akidah Islam mengenai kedudukan istimewa Nabi Muhammad SAW di sisi Allah. Kekuatan kata "Subhan" di awal memandu pembaca untuk selalu menempatkan keterbatasan akal manusia di bawah kuasa Allah yang Maha Tak Terbatas. Ini adalah pondasi teologis bagi seluruh kisah agung yang akan dilanjutkan dalam ayat-ayat berikutnya.